Showing posts with label TOKOH DUNIA. Show all posts
Showing posts with label TOKOH DUNIA. Show all posts

KATA BIJAK # 1027 - BERTOLT BRECHT

"Buta terburuk adalah buta politik."

-- Bertold Brecht --

----------

Komentar :

Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik. Mereka membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar bahwa dia anti politik.

Orang dungu itu tidak tahu bahwa akibat dia mengabaikan politik adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk dari semuanya adalah pemerintah yang korup dan perusahaan-perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri.

KATA BIJAK # 1019 - LARYY L. KING

"Tidak ada jalan pintas. Menulislah dan tulis ulang. Saat tidak menulis ulang maka membacalah."

[ Larry L. King ]

KATA BIJAK # 1016 - NOAM CHOMSKY

KATA BIJAK # 1016 - NOAM CHOMSKY

"Ketika orang takut, mereka lebih mudah dikendalikan. Itulah mengapa kekuasaan selalu menciptakan musuh."

[ Noam Chomsky ]

-------------------------

Komentar :

Itulah mengapa kekuasaan selalu mencipta musuh,” mengungkap mekanisme halus dalam praktik kekuasaan. Ketakutan melemahkan nalar kritis; dalam kondisi terancam, manusia cenderung mencari perlindungan, bahkan jika itu berarti menyerahkan kebebasan berpikir dan bertindak.

Penciptaan musuh—baik nyata maupun imajiner—menjadi alat efektif untuk memelihara rasa takut tersebut. Musuh memberi wajah pada kecemasan kolektif, sekaligus membenarkan kebijakan represif, pengawasan berlebihan, atau ketidakadilan atas nama keamanan. Dalam suasana seperti ini, pertanyaan kritis mudah dicap sebagai ancaman, dan ketaatan dianggap sebagai kebajikan.

Chomsky mengingatkan pentingnya kewaspadaan intelektual. Ketika ketakutan diproduksi secara sistematis, tugas warga adalah mempertanyakan narasi yang dibangun kekuasaan. Hanya dengan kesadaran dan keberanian berpikir kritis, masyarakat dapat membedakan antara ancaman nyata dan ketakutan yang sengaja diciptakan untuk mengendalikan.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1CmvfxJ9y2/

KATA BIJAK # 1015 - NOAM CHOMSKY

KATA BIJAK # 1015 - NOAM CHOMSKY

"Tugas intelektual adalah berbicara kebenaran dan membongkar kebohongan."

[ Noam Chomsky ]

-------------------------

Komentar :

Berbicara kebenaran bukan tugas yang ringan, apalagi ketika kebenaran itu tidak nyaman bagi banyak pihak. Intelektual sering berada di posisi yang rawan, di antara kekuasaan, kepentingan, dan tekanan sosial. Namun justru di situlah tanggung jawabnya diuji, apakah ia memilih aman atau memilih jujur.

Membongkar kebohongan tidak selalu berarti berteriak paling keras. Kadang ia hadir lewat tulisan yang tenang, pertanyaan yang tepat, atau penolakan untuk ikut menyebarkan narasi palsu. Intelektual sejati tahu bahwa kebohongan yang dibiarkan, lama-lama akan dianggap wajar dan akhirnya dipercaya sebagai kebenaran.

Ketika kebenaran disuarakan dengan kesadaran dan keberanian, ia mungkin tidak langsung mengubah keadaan. Tapi ia menjaga nurani tetap hidup. Tugas intelektual bukan memenangkan popularitas, melainkan menjaga akal sehat publik agar tidak sepenuhnya dikalahkan oleh tipu daya dan kepentingan sempit.

*****

Sumber : 

https://web.facebook.com/share/p/1X9ZXgVujn/

KATA BIJAK # 1013 - SOCRATES

KATA BIJAK # 1013 - SOCRATES

"Kekhawatiranku bukan pada kebebasan berbicara, melainkan pada kebodohan yang dibungkus dengan suara mayoritas."

[ Socrates ]

*****

Komentar :

Kekhawatiran terbesar dalam kehidupan bersama bukanlah ketika semua orang bebas berbicara, melainkan ketika kebebasan itu tidak disertai tanggung jawab berpikir. Suara yang lantang sering dianggap benar hanya karena jumlahnya banyak, bukan karena isinya bermakna. Di titik ini, kebenaran mulai kalah oleh keramaian.

Masalah muncul saat mayoritas tidak lagi mau belajar, tapi ingin didengar. Pendapat disebar cepat tanpa dipahami, emosi dijadikan argumen, dan kebingungan diklaim sebagai keberanian. Ketika ini terjadi, kebebasan berubah fungsi dari alat pencerahan menjadi alat pembenaran.

Contoh yang dekat terlihat di media sosial. Sebuah opini keliru bisa viral karena diulang ribuan kali. Banyak orang ikut membagikan tanpa membaca tuntas, lalu marah saat dikritik. Jumlah like menjadi pengganti akal sehat.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal serupa terjadi saat keputusan bersama diambil hanya karena ikut suara terbanyak. Rapat warga, pilihan pemimpin, bahkan penilaian moral sering ditentukan oleh tekanan sosial, bukan pertimbangan rasional. Yang berbeda dianggap salah sebelum sempat menjelaskan.

Bahaya sesungguhnya bukan pada orang yang tidak tahu, tetapi pada situasi yang memberi panggung besar pada ketidaktahuan. Ketika berpikir kritis dianggap mengganggu keharmonisan, kebodohan justru dilindungi atas nama persatuan.

Jika kebebasan ingin tetap bermakna, ia harus berjalan seiring dengan kesadaran. Suara mayoritas seharusnya lahir dari pemahaman, bukan sekadar kebiasaan ikut-ikutan. Tanpa itu, kebebasan hanya akan mempercepat kesesatan bersama.

-------------------------

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/16ysBGaxMN/

KATA BIJAK # 1012 - ARISTOTELES

KATA BIJAK # 1012 - ARISTOTELES

“Korupsi dalam pemerintahan dimulai ketika hukum tidak lagi berlaku sama bagi semua orang.”

[ Aristoteles ]

*****

Kutipan Aristoteles ini menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi utama pemerintahan yang sehat. Hukum diciptakan untuk mengatur kehidupan bersama dan menjamin kesetaraan setiap warga negara di hadapannya. Ketika hukum diterapkan secara pilih kasih—menguntungkan kelompok tertentu dan merugikan yang lain—maka keadilan runtuh, dan dari situlah korupsi mulai tumbuh.

Korupsi tidak selalu muncul dalam bentuk suap atau penyalahgunaan uang negara, tetapi juga dalam bentuk perlakuan istimewa, impunitas, dan ketidaksetaraan hukum. Jika pejabat atau kelompok berkuasa kebal terhadap hukum sementara rakyat biasa dihukum dengan tegas, kepercayaan publik terhadap pemerintahan akan hilang. Ketidakadilan semacam ini membuka ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan yang semakin meluas.

Melalui kutipan ini, Aristoteles mengingatkan bahwa pemerintahan yang adil menuntut supremasi hukum yang benar-benar setara. Tanpa kesetaraan di depan hukum, negara akan kehilangan legitimasi moralnya. Oleh karena itu, penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif bukan hanya soal aturan, tetapi merupakan syarat mutlak untuk mencegah korupsi dan menjaga keutuhan kehidupan bernegara.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/17ke3QVArq/

KATA BIJAK # 1010 - JEAN JACQUES ROUSSEAU

KATA BIJAK # 1010 - JEAN JACQUES ROUSSEAU

“Yang paling menyedihkan adalah ketika manusia menjarah bumi dengan dalih kemajuan.”

[ Jean-Jacques Rousseau ]

-------------------------

Komentar :

1. “Kemajuan” tidak selalu berarti perbaikan moral manusia

Rousseau adalah filsuf yang terkenal dengan kritiknya terhadap konsep kemajuan.

Menurutnya, perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan budaya tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih baik.

Sering kali, justru sebaliknya: kemajuan membuat manusia semakin rakus, sombong, dan jauh dari sifat alamiahnya yang sederhana.

Dari sinilah muncul ide bahwa atas nama kemajuan, manusia dapat melakukan tindakan merusak.

2. Menjarah bumi demi keuntungan dianggap sebagai “kemajuan”

Dalam praktik modern, banyak tindakan eksploitasi alam—penebangan hutan, penambangan besar-besaran, polusi industri—dilakukan dengan alasan: pembangunan, pertumbuhan ekonomi, modernisasi, perkembangan teknologi.

Rousseau akan melihat ini sebagai bentuk penipuan moral: manusia merusak bumi tetapi menyebutnya “kemajuan”.

3. Alam sebagai bagian dari keadaan alami manusia

Bagi Rousseau, manusia yang paling bahagia adalah manusia yang hidup dekat dengan alam dan kesederhanaan.

Ketika manusia merusak bumi, ia sesungguhnya merusak: sumber ketenangan, sumber kehidupan, hubungan dasar antara manusia dan alam.

Oleh karena itu, “penjarahan bumi” bukan hanya kerusakan ekologis, tetapi kerusakan terhadap hakikat manusia itu sendiri.

4. Dalih kemajuan adalah bentuk pembenaran diri

Kutipan ini mengkritik bagaimana manusia sering membuat alasan mulia untuk tindakan yang sebenarnya merusak.

Rousseau menyoroti kecenderungan manusia untuk: menganggap dirinya superior, mendefinisikan kemajuan secara material, mengabaikan dampak moral dan ekologis dari tindakannya.

Yang menyedihkan bukan hanya penjarahan itu sendiri, tetapi kebohongan moral yang menyertainya.

5. Pesan yang ingin disampaikan

Kutipan ini mengingatkan bahwa: kemajuan tanpa moralitas adalah kehancuran, teknologi tanpa kebijaksanaan membawa bencana, pembangunan yang mengabaikan alam bukan kemajuan, tetapi kemunduran, dan manusia harus menilai kembali apa arti “maju” sesungguhnya.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1HCgPVxrht/

KATA BIJAK # 1005 - WILLIAM JAMES

"Seni menjadi bijak adalah seni mengetahui apa yang harus diabaikan."

[ William James ]

-------------------------

Komentar :

Hidup menghadirkan terlalu banyak hal untuk diperhatikan sekaligus. Opini orang lain, tuntutan sosial, kesalahan kecil, dan kegaduhan yang terus berulang sering menuntut respons. Tanpa kebijaksanaan, seseorang akan kelelahan menanggapi semuanya. Di sinilah seni menjadi bijak bermula, bukan dari kemampuan mengetahui banyak hal, melainkan dari kecakapan memilih mana yang layak diberi perhatian.

Mengabaikan bukan berarti tidak peduli. Ia justru menuntut kejernihan. Tidak semua kritik perlu dijawab, tidak semua provokasi perlu diladeni, dan tidak semua masalah harus dijadikan pusat hidup. Orang yang bijak memahami bahwa energi terbatas. Dengan memilih untuk mengabaikan hal-hal yang tidak esensial, ia menjaga dirinya tetap utuh dan tidak terpecah oleh kebisingan yang sia-sia.

Kebijaksanaan tumbuh dari keberanian untuk berkata cukup. Cukup pada drama yang tidak perlu, cukup pada penilaian yang tidak membangun, dan cukup pada hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai diri. Dengan mengetahui apa yang harus diabaikan, hidup menjadi lebih lapang. Bukan karena masalah berkurang, tetapi karena perhatian akhirnya diberikan pada hal-hal yang benar-benar berarti.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1B9mvGCVkh/

KATA BIJAK # 998 - RABINDRANATH TAGORE

KATA BIJAK # 998 - RABINDRANATH TAGORE

"Tujuan utama mengajar bukanlah memberikan penjelasan, tetapi mengetuk pintu-pintu pikiran."

[ Rabindranath Tagore ]

KATA BIJAK # 991 - HANS KELSEN

KATA BIJAK # 991 - HANS KELSEN

"Hukum tidak boleh menjadi alat kekuasaan, tetapi pelindung bagi semua yang hidup di bawahnya."

[ Hans Kelsen ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Hans Kelsen ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip dasar sistem hukum yang ideal: hukum seharusnya berfungsi sebagai pelindung bagi semua individu, tanpa terkecuali.
Hukum bukanlah alat untuk memperkuat kekuasaan, tetapi harus menjadi jaring pengaman yang melindungi hak dan kebebasan setiap orang.
Namun, kenyataannya sering kali kita menyaksikan sebaliknya—hukum malah digunakan untuk mempertahankan kekuasaan atau kepentingan tertentu.
Apakah hukum di Indonesia saat ini lebih banyak digunakan untuk melindungi kepentingan orang berkuasa?
Ataukah justru, hukum benar-benar bekerja untuk melindungi rakyat biasa, yang sering kali menjadi korban ketidakadilan?
Misalnya, kita sering mendengar tentang "keadilan selektif", di mana hukum bisa tampak tumpul bagi sebagian orang dan tajam bagi yang lain.
Atau ketika hukum dipakai untuk mengekang kebebasan berbicara dan berpendapat, bukannya untuk melindungi hak dasar tersebut.
Apa pendapatmu?
Apakah hukum di negara kita sudah berfungsi dengan baik sebagai pelindung bagi semua pihak?
Atau justru sebaliknya, apakah hukum lebih sering digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan mempertahankan kekuasaan?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 990 - SAYYID ALI KHAMENEI

KATA BIJAK # 990 - SAYYID ALI KHAMENEI

"Tidak ada manfaat yang lebih besar bagi dunia islam selain persatuan."

[ Sayyid Ali Khamenei ]

KATA BIJAK # 989 - KARL POPPER

KATA BIJAK # 989 - KARL POPPER

"Negara hukum sejati adalah yang menjamin bahwa tidak ada orang yang berada di atas hukum."

[ Karl Popper ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Karl Popper ini mengajak kita untuk berpikir tentang prinsip dasar "negara hukum".
Negara hukum sejati bukanlah negara yang hanya memiliki hukum, tetapi negara yang "menjamin bahwa hukum berlaku untuk semua orang", tanpa terkecuali.
Tidak ada yang diistimewakan, tidak ada yang di atas hukum—baik itu pejabat negara, orang kaya, atau siapa pun yang memiliki kekuasaan.
Namun, dalam banyak kasus, kita sering melihat bahwa 'mereka yang berkuasa atau memiliki pengaruh lebih besar tampaknya bisa 'menghindari' hukuman atau mendapat perlakuan khusus", bahkan ketika mereka melanggar hukum.
Ini membawa kita pada pertanyaan, "apakah negara kita benar-benar menjamin bahwa tidak ada orang yang di atas hukum?"
Apa pendapat kamu tentang ketidaksetaraan yang sering terjadi dalam penerapan hukum?
Pernahkah kamu menyaksikan atau mendengar cerita tentang individu atau kelompok yang diperlakukan berbeda karena kekuasaan mereka?
"Menurut kamu, apakah mungkin bagi sebuah negara untuk menciptakan sistem hukum di mana benar-benar tidak ada yang berada di atas hukum?"
Apa yang perlu dilakukan untuk memastikan bahwa hukum bisa diterapkan secara adil kepada siapa pun, tanpa memandang status atau kekuasaan mereka?
Mari berbagi pandangan.
"Negara hukum yang sejati tentu menjadi impian banyak orang", tetapi juga tantangan besar untuk diwujudkan dalam praktik.
Bagaimana menurutmu cara kita bisa memperjuangkan prinsip ini dalam kehidupan nyata?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 988 - MARCUS TULLIUS CICERO

 KATA BIJAK # 988 - MARUC TULLIUS CICERO

"Setiap orang bisa membuat kesalahan, tetapi hanya orang bodoh yang bertahan dalam kesalahannya."

[ Marcus Tullius Cicero ]

KATA BIJAK # 984 - MARCUS AURELIUS

KATA BIJAK # 984 - MARCUS AURELIUS

"Hidup yang bahagia tergantung pada kualitas pikiranmu."

[ Marcus Aurelius ]

-------------------------

KOMENTAR :

Kebahagiaan sejati bukan datang dari hal-hal eksternal seperti harta, status, atau pujian, melainkan dari cara pikiran kita merespons kehidupan. Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, namun satu merasa bersyukur dan damai, sementara yang lain merasa marah dan tersiksa. Perbedaannya bukan pada kejadian, tapi pada kualitas pikirannya. Pikiran yang jernih dan terlatih akan mampu melihat makna, bukan hanya masalah.

Pikiran yang berkualitas adalah pikiran yang mampu mengendalikan dirinya, tidak mudah terombang-ambing oleh emosi sesaat, dan bisa menemukan ketenangan di tengah ketidakpastian. Ia tidak menuntut kesempurnaan dari dunia, karena tahu bahwa ketenangan tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada sikap terhadap keadaan itu. Pikiran yang sehat mampu melihat peluang di balik kesulitan dan makna di balik penderitaan.

Maka dari itu, menjaga kualitas pikiran bukan hanya penting, tapi mendasar bagi kebahagiaan. Itu berarti merawat cara kita berpikir, mengolah emosi dengan bijak, dan melatih diri untuk tidak larut dalam kekhawatiran atau kebencian. Ketika pikiran kita jernih, hidup pun menjadi lebih ringan dijalani, dan kebahagiaan hadir bukan sebagai sesuatu yang dikejar, tetapi sebagai sesuatu yang tumbuh dari dalam. 


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 982 - ALBERT EINSTEIN

KATA BIJAK # 982 - ALBERT EINSTEIN

"Pola pikir harus dikembangkan untuk mengatasi masalah."

[ Albert Einstein ]

KATA BIJAK # 981 - JOHN DEWEY

KATA BIJAK # 981 - JOHN DEWEY

"Pendidikan bukan tentang mendapatkan informasi, tetapi tentang belajar berpikir kritis."

[ John Dewey ]

KATA BIJAK # 978 - ALBERT CAMUS

KATA BIJAK # 978 - ALBERT CAMUS

"Sastra adalah kebohongan yang menceritakan kebenaran, tidak seperti kebohongan yang menyembunyikan kenyataan."

[ Albert Camus ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Albert Camus ini menarik karena menyamakan sastra dengan kebohongan, namun kebohongan yang justru mengungkapkan kebenaran lebih dalam daripada kenyataan yang tampak di permukaan.
Albert Camus sepertinya ingin mengatakan bahwa karya sastra, meskipun bisa jadi imajinatif atau tidak sepenuhnya realistis, seringkali mengungkapkan kebenaran yang lebih universal—tentang kehidupan, perasaan, atau bahkan eksistensi kita sendiri.
Pernahkah kamu merasa bahwa sebuah novel, cerita, atau puisi menyampaikan kebenaran tentang hidup yang sulit diungkapkan dengan kata-kata biasa?
Mungkin melalui karakter yang kompleks, situasi yang tidak ideal, atau bahkan dunia fiksi yang aneh, kita menemukan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia nyata dan diri kita sendiri?
Lalu, bagaimana menurut kamu—apakah sastra itu memang kebohongan yang “dibenarkan” karena ia bisa menyentuh kebenaran yang lebih mendalam?
Dan apakah kebohongan yang menyembunyikan kenyataan itu selalu buruk, atau ada kalanya kita merasa lebih nyaman hidup dalam kebohongan tersebut?
Apakah kamu merasa bahwa sastra membantu kita melihat kebenaran yang tidak bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari?
Atau mungkin ada pengalaman pribadi di mana sebuah karya sastra mengubah cara pandang kamu terhadap suatu isu?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 977 - SOCRATES

KATA BIJAK # 977 - SOCRATES

"Mereka yang tidak peduli pada kebenaran akan selalu mudah diperalat oleh kebohongan."

[ Socrates ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Socrates ini dengan tajam menyatakan bahwa ketidakpedulian terhadap kebenaran membuat kita rentan terhadap kebohongan.
Jika kita tidak terbiasa mencari kebenaran atau mempertanyakan apa yang kita dengar, maka kita akan lebih mudah dibohongi dan dimanipulasi oleh orang lain yang ingin memanfaatkan ketidaktahuan kita.
Menurut kamu, mengapa orang yang tidak peduli dengan kebenaran lebih mudah diperalat oleh kebohongan?
Apakah ini karena mereka tidak terbiasa berpikir kritis atau lebih memilih kenyamanan daripada mencari kebenaran yang kadang-kadang sulit diterima?
Ketika kita tidak mencari kebenaran atau tidak cukup peduli untuk menggali informasi lebih dalam, kita membuka diri untuk diperdaya.
Hal ini bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, dari politik, media sosial, hingga hubungan pribadi.
Kebohongan bisa berkembang subur di antara mereka yang enggan memeriksa fakta atau berpikir lebih dalam.
Pernahkah kamu merasa bahwa kebohongan yang disebarkan oleh orang lain bisa mempengaruhi keputusan atau pandangan kamu, hanya karena kamu tidak benar-benar peduli untuk memeriksa kebenarannya?
Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan kecenderungan ini?
Socrates menekankan pentingnya rasa ingin tahu dan kesediaan untuk mencari kebenaran.
Masyarakat yang tidak peduli pada kebenaran akan lebih mudah dimanipulasi karena mereka cenderung menerima apa adanya tanpa berpikir kritis.
Apa yang bisa kita lakukan untuk membiasakan diri lebih peduli pada kebenaran dan berpikir kritis dalam menghadapi informasi yang kita terima sehari-hari?
Bagaimana kita bisa melatih diri untuk lebih jeli dalam membedakan kebenaran dari kebohongan?
Di dunia yang penuh dengan informasi yang bisa datang dari berbagai sumber—baik itu sahih maupun tidak—kita sebagai individu memiliki tanggung jawab untuk tidak mudah terjebak dalam kebohongan.
Apakah kamu merasa lebih perlu untuk melatih diri dalam berpikir kritis, atau apakah kamu merasa sudah cukup waspada dalam menghadapi kebohongan?
Bagaimana menurut kamu, apakah kita terlalu sering mengabaikan kebenaran demi kenyamanan atau pengaruh luar?
Apa yang bisa kita lakukan untuk lebih peduli pada pencarian kebenaran?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 976 - PLATO

KATA BIJAK # 976 - PLATO

"Orang-orang yang cukup berani untuk mengatakan kebenaran akan selalu dibenci oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari kebohongan."

[ Plato ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Plato ini menyentuh inti dari konflik antara kebenaran dan kenyamanan.
Menurut Plato, orang yang berani mengatakan kebenaran sering kali dianggap ancaman oleh mereka yang merasa diuntungkan oleh kebohongan.
Ini membuka sebuah pertanyaan yang sangat relevan dalam banyak aspek kehidupan—baik dalam politik, media, atau hubungan pribadi.
Pernahkah kamu merasakan bahwa saat kamu mengatakan kebenaran, kamu justru dihindari atau bahkan dibenci oleh orang-orang yang selama ini diuntungkan oleh kebohongan atau ketidakjujuran?
Kebenaran memang kadang terasa pahit, dan banyak orang lebih memilih hidup dalam ilusi yang nyaman daripada menerima kenyataan yang sulit.
Misalnya, dalam hubungan sosial, terkadang mengungkapkan kebenaran bisa membuat kita dikucilkan atau dijauhi, meskipun sebenarnya itu untuk kebaikan bersama.
Namun, kebenaran juga bisa menjadi kekuatan yang membebaskan.
Dalam konteks ini, "apakah kamu lebih memilih untuk mengatakan kebenaran meskipun itu bisa membuatmu dibenci, atau lebih memilih untuk tetap diam demi menjaga kedamaian?"
Dan bagaimana seharusnya kita berhadapan dengan kebohongan yang sudah ada, apakah kita harus selalu membongkarnya, atau ada kalanya lebih baik diam demi kebaikan?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id