Showing posts with label BELAJAR / MEMPELAJARI. Show all posts
Showing posts with label BELAJAR / MEMPELAJARI. Show all posts

KATA BIJAK # 1038 - NELSON MANDELA

"Berpikir sebelum bertindak adalah tanda kebijaksanaan. Belajar dari tindakan adalah tanda kedewasaan."

[ Nelson Mandela ]

----------

KATA BIJAK # 1038 - NELSON MANDELA

PENJELASAN GEMINI :

Pernyataan dari Nelson Mandela ini merangkum dua tahap penting dalam proses pembentukan karakter dan pengambilan keputusan:

1. "Berpikir sebelum bertindak adalah tanda kebijaksanaan"

  • Kesadaran dan Perencanaan: Kebijaksanaan ditunjukkan saat seseorang mampu menahan diri dari tindakan impulsif atau emosional.

  • Pertimbangan Konsekuensi: Orang yang bijak akan mempertimbangkan dampak jangka panjang, risiko, serta nilai moral dari setiap langkah yang akan diambil sebelum benar-benar mengeksekusinya.

2. "Belajar dari tindakan adalah tanda kedewasaan"

  • Evaluasi dan Tanggung Jawab: Kedewasaan terlihat ketika seseorang mau mengevaluasi hasil dari pilihannya—baik itu membuahkan keberhasilan maupun kegagalan.

  • Refleksi Diri: Dibandingkan menyalahkan keadaan atau orang lain saat terjadi kesalahan, pribadi yang dewasa memilih untuk mengambil pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Secara keseluruhan, pesan ini mengajarkan kita untuk berhati-hati di awal (kebijaksanaan) dan terus tumbuh di akhir (kedewasaan) dari setiap pengalaman hidup.

----------

KATA BIJAK # 1038 - NELSON MANDELA

PENJELASAN CHATGPT :

Kutipan “Berpikir sebelum bertindak adalah tanda kebijaksanaan. Belajar dari tindakan adalah tanda kedewasaan.” mengandung dua tahap penting dalam menjalani kehidupan: kehati-hatian sebelum bertindak dan refleksi setelah bertindak.

1. “Berpikir sebelum bertindak adalah tanda kebijaksanaan”

Mandela menekankan bahwa orang bijaksana tidak langsung bereaksi terhadap setiap keadaan.

Sebelum mengambil keputusan, kita perlu bertanya:

  • Apa akibat dari tindakan saya?
  • Apakah keputusan ini akan merugikan orang lain?
  • Apakah saya bertindak berdasarkan emosi sesaat?
  • Apa yang mungkin terjadi setelah saya melakukan ini?

Kebijaksanaan bukan berarti tidak pernah bertindak, tetapi mampu memberi jarak antara dorongan untuk bertindak dan keputusan untuk bertindak.

Kadang-kadang, beberapa detik untuk berpikir dapat mencegah penyesalan yang berlangsung bertahun-tahun.

2. “Belajar dari tindakan adalah tanda kedewasaan”

Bagian kedua bahkan lebih dalam.

Setelah kita bertindak, kita mungkin berhasil, tetapi kita juga mungkin melakukan kesalahan. Orang yang dewasa tidak berhenti pada pertanyaan:

“Apakah saya berhasil atau gagal?”

Ia melanjutkan dengan:

“Apa yang bisa saya pelajari dari apa yang baru saja terjadi?”

Kesalahan tidak otomatis membuat seseorang tidak dewasa. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah menyadari kesalahan tersebut.

Orang yang matang mampu mengatakan:

“Saya salah. Saya perlu memahami mengapa saya salah, memperbaikinya, dan tidak mengulanginya.”

3. Kebijaksanaan dan kedewasaan saling melengkapi

Keduanya membentuk sebuah siklus:

BERPIKIR → BERTINDAK → MENGAMATI HASIL → BELAJAR → MEMPERBAIKI → BERTINDAK LEBIH BIJAK

Jadi, kehidupan bukan sekadar tentang membuat keputusan yang benar sejak awal, tetapi juga tentang kemampuan mengubah pengalaman menjadi kebijaksanaan.

4. Contoh sederhana

Misalnya seseorang mendapat kritik di tempat kerja.

Tidak berpikir:
Ia langsung marah dan membalas kritik tersebut.

Berpikir sebelum bertindak:
Ia menahan reaksi, memahami maksud kritik, lalu menentukan respons yang tepat.

Namun ternyata responsnya tetap kurang tepat.

Belajar dari tindakan:
Ia mengevaluasi apa yang terjadi dan menyadari bahwa cara berkomunikasinya perlu diperbaiki.

Di situlah kedewasaan muncul.

Inti pesannya

Menurut makna kutipan tersebut, orang bijaksana belajar menggunakan pikirannya sebelum bertindak, sedangkan orang dewasa belajar menggunakan pengalamannya setelah bertindak.

Dengan kata lain:

Kebijaksanaan mencegah kita bertindak secara gegabah. Kedewasaan membuat kita tidak menyia-nyiakan pengalaman, bahkan ketika kita melakukan kesalahan.

Satu hal penting: kutipan ini sering beredar dengan atribusi kepada Nelson Mandela, tetapi saya tidak akan menganggap keaslian redaksi persisnya sebagai terverifikasi tanpa sumber primer yang jelas. Jadi lebih aman menyebutnya sebagai kutipan yang diatribusikan kepada Nelson Mandela.

KATA BIJAK # 1037 - JENSEN HUANG

"Tidak semua orang tertinggal karena kurang kesempatan, banyak yang tertinggal karena menolak belajar."

[ Jensen Huang, CEO Nvidia ]

----------

KATA BIJAK # 1037 - JENSEN HUANG

PENJELASAN GEMINI :

Pernyataan dari Jensen Huang (CEO NVIDIA) ini menyoroti pentingnya pola pikir pembelajar (growth mindset) dalam menghadapi perkembangan zaman, khususnya di era teknologi yang bergerak cepat:

1. Pergeseran Faktor Penghambat Sukses

  • Aksesibilitas Informasi: Di era digital, kesempatan untuk belajar dan meraih pengetahuan terbuka jauh lebih luas dibandingkan masa lalu.

  • Tanggung Jawab Pribadi: Hambatan terbesar sering kali bukan lagi ketiadaan modal atau kesempatan, melainkan ketidakmauan individu untuk terus belajar, mengadaptasi keterampilan baru, dan keluar dari zona nyaman.

2. Adaptasi terhadap Perubahan dan Kemajuan Teknologi

  • Dinamika Industri: Di dunia yang terus berubah (seperti hadirnya kecerdasan buatan/AI), orang yang menolak belajar akan dengan cepat tertinggal karena keterampilan lama mereka menjadi tidak relevan.

  • Resiliensi Diri: Kesempatan sering kali menghampiri mereka yang siap secara pengetahuan. Mereka yang menolak belajar secara tidak langsung menolak kesempatan itu sendiri sebelum kesempatan tersebut datang.

Makna utamanya adalah sebuah teguran sekaligus dorongan moral bahwa penentu utama kemajuan seseorang bukanlah semata-mata keberuntungan atau fasilitas yang dimiliki, melainkan kemauan untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

----------

KATA BIJAK # 1037 - JENSEN HUANG

PENJELASAN CHATGPT :

Kata-kata “Tidak semua orang tertinggal karena kurang kesempatan, banyak yang tertinggal karena menolak belajar” dapat dipahami sebagai kritik terhadap kecenderungan manusia untuk menyalahkan keadaan, padahal sebagian hambatan justru berasal dari keengganan untuk berkembang.

Namun, saya perlu memberi catatan: saya belum menemukan sumber primer yang dapat memastikan bahwa redaksi persis kalimat ini benar-benar pernah diucapkan Jensen Huang. Jadi, untuk publikasi, lebih aman menuliskannya sebagai “kutipan yang diatribusikan kepada Jensen Huang”.

1. Kesempatan saja tidak cukup

Dalam kehidupan, memang ada orang yang tertinggal karena tidak mendapatkan kesempatan yang adil.

Ada yang lahir dalam keluarga kurang mampu, tidak memperoleh pendidikan yang baik, tidak memiliki akses teknologi, atau menghadapi keadaan yang jauh lebih sulit dibandingkan orang lain.

Jadi, kalimat ini bukan berarti semua orang yang gagal adalah orang yang malas belajar.

Tetapi ada sisi lain yang ingin ditekankan:

Ketika kesempatan datang, apakah kita siap menggunakannya?

Kesempatan tanpa kemampuan untuk memanfaatkannya sering kali berlalu begitu saja.

2. Dunia terus berubah

Inilah pesan yang sangat relevan dengan pemikiran Jensen Huang dan industri teknologi.

Teknologi berubah sangat cepat. Keahlian yang berharga hari ini bisa saja tidak lagi cukup beberapa tahun kemudian.

Orang yang berkata:

“Saya sudah tahu semuanya.”

berisiko tertinggal.

Sebaliknya, orang yang terus berkata:

“Apa lagi yang perlu saya pelajari?”

memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi.

Belajar bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan; belajar adalah cara mempertahankan kemampuan untuk tetap relevan.

3. “Menolak belajar” lebih serius daripada “belum tahu”

Ada perbedaan besar antara:

“Saya belum tahu.”

dan

“Saya tidak mau tahu.”

Orang yang belum tahu masih memiliki peluang untuk berkembang.

Ia bisa membaca, bertanya, mencoba, gagal, lalu belajar lagi.

Tetapi orang yang menolak belajar menutup pintu perubahan sebelum perubahan itu terjadi.

Ia mungkin berkata:

  • “Saya sudah terlalu tua untuk belajar.”
  • “Cara lama sudah cukup.”
  • “Teknologi itu bukan untuk saya.”
  • “Saya tidak perlu belajar hal baru.”
  • “Dari dulu saya juga begini.”

Masalahnya bukan karena dia tidak mampu.

Masalahnya adalah dia berhenti bersedia berkembang.

4. Zona nyaman bisa menjadi jebakan

Kadang-kadang seseorang tidak tertinggal karena tidak memiliki kesempatan, tetapi karena terlalu nyaman dengan kemampuan yang sudah dimilikinya.

Selama semuanya masih berjalan, tidak ada alasan untuk berubah.

Sampai akhirnya dunia bergerak lebih cepat daripada dirinya.

Contohnya sederhana:

Seseorang yang selama bertahun-tahun bekerja dengan cara tertentu mungkin merasa tidak perlu mempelajari teknologi baru.

Tetapi ketika lingkungan kerjanya berubah, orang lain yang sudah menguasai teknologi tersebut menjadi lebih cepat dan lebih kompetitif.

Bukan berarti orang pertama tidak pernah memiliki kesempatan.

Kesempatannya mungkin ada, tetapi dia tidak mempersiapkan dirinya untuk memanfaatkannya.

5. Belajar berarti bersedia menjadi pemula lagi

Ini bagian yang sering tidak disadari.

Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita kembali menjadi orang yang tidak tahu.

Kita bisa merasa bodoh.

Kita bisa melakukan kesalahan.

Kita bisa kalah dari orang yang lebih muda.

Dan ego sering kali tidak menyukai keadaan tersebut.

Karena itu, kemampuan belajar membutuhkan kerendahan hati.

Orang yang hebat bukan orang yang selalu terlihat pintar.

Tetapi orang yang tidak malu mengakui bahwa dirinya belum tahu dan kemudian belajar.

6. Kegagalan tidak selalu berarti tidak punya kesempatan

Kalimat ini juga mengajak kita melakukan introspeksi sebelum menyalahkan keadaan.

Ketika kita tertinggal, ada baiknya bertanya:

“Apa yang memang berada di luar kendali saya?”

dan kemudian:

“Apa yang sebenarnya masih bisa saya pelajari dan ubah?”

Pertanyaan kedua sangat penting.

Karena kita memang tidak dapat mengendalikan semua keadaan, tetapi kita masih dapat mengendalikan kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan mencoba kembali.

7. Dalam era AI, pesan ini semakin relevan

Sekarang perubahan terjadi semakin cepat.

AI, otomatisasi, teknologi digital, dan perubahan cara bekerja membuat kemampuan belajar ulang (relearning) semakin penting.

Bukan berarti semua orang harus menjadi programmer atau ahli AI.

Pesannya lebih sederhana:

Jangan berhenti belajar hanya karena cara lama masih terasa nyaman.

Karena mungkin yang membuat kita tertinggal bukan karena dunia tidak memberikan kesempatan.

Kita sendiri yang berhenti berjalan ketika dunia terus bergerak.

Inti pesannya

Menurut saya, inti kalimat tersebut dapat dirangkum menjadi:

Kesempatan membuka pintu, tetapi kemampuan menentukan apakah kita mampu melewatinya.

Dan kemampuan itu harus terus diperbarui.

Jangan hanya bertanya, “Mengapa saya tidak mendapatkan kesempatan?”

Tanyakan juga:

“Ketika kesempatan datang, apakah saya sudah menjadi orang yang siap menerimanya?”

Karena pada akhirnya, belajar bukan sekadar cara untuk mengejar orang lain—belajar adalah cara agar kita tidak berhenti berkembang ketika dunia berubah.

KATA BIJAK # 987 - MARK MANSON

KATA BIJAK # 987 - MARK MANSON

"Cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang belajar melihat orang yang tidak sempurna dengan sempurna."

[ Mark Manson ]

-------------------------

Komentar :

Cinta yang dewasa tidak menuntut kesempurnaan. Ia tidak terlahir dari ilusi bahwa seseorang bebas dari cacat, melainkan dari penerimaan bahwa setiap orang membawa luka, kekurangan, dan kompleksitasnya masing-masing. Ketika kita mencintai, kita memilih untuk melihat seseorang secara utuh—dengan kelebihannya, tapi juga dengan ketidaksempurnaannya.
Mata cinta tidak buta, tapi jernih. Ia mampu membedakan antara harapan dan kenyataan, namun tetap memilih untuk hadir, memahami, dan bertumbuh bersama. Cinta bukan soal menemukan seseorang yang tak pernah menyakiti atau mengecewakan, melainkan tentang bagaimana tetap bertahan ketika itu terjadi, selama masih ada kejujuran dan usaha untuk memperbaiki.
Melihat ketidaksempurnaan secara “sempurna” berarti mengembangkan empati, kesabaran, dan komitmen. Di situlah cinta menjadi lebih dari sekadar perasaan; ia menjadi keputusan dan tindakan yang berulang setiap hari.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 959 - BRIAN HERBERT

KATA BIJAK # 959 - BRIAN HERBERT

"Kemampuan untuk belajar adalah anugerah; keterampilan untuk belajar adalah keahlian, kemauan untuk belajar adalah pilihan."

[ Brian Herbert ]

KATA BIJAK # 913 - BILL GATES

KATA BIJAK # 913 - BILL GATES

"Orang sukses adalah pembaca yang rajin. Mereka tak pernah berhenti belajar."

[ Bill Gates ]

-------------------------

Komentar :

Orang-orang yang mencapai kesuksesan sejati jarang sekali berhenti pada satu titik pengetahuan. Mereka memahami bahwa dunia terus berkembang, dan untuk tetap relevan serta unggul, mereka pun harus terus belajar. Membaca adalah jendela utama yang mereka gunakan untuk melihat lebih jauh, memahami lebih dalam, dan merespons lebih bijak terhadap tantangan zaman.
Kebiasaan membaca memperluas cakrawala berpikir, memperkaya kosakata, dan melatih kemampuan menganalisis. Dalam setiap lembar buku, artikel, atau jurnal yang dibaca, seorang pembelajar sejati menemukan ide baru, wawasan yang menantang, bahkan kritik terhadap dirinya sendiri. Kesuksesan tidak datang dari stagnasi, tetapi dari dorongan untuk terus tumbuh—dan membaca adalah bahan bakarnya.
Lebih dari sekadar aktivitas intelektual, membaca bagi orang sukses adalah disiplin. Mereka tidak menunggu waktu luang untuk belajar, melainkan menciptakan waktu untuk menyerap ilmu. Dan justru karena mereka sadar bahwa dunia tak berhenti berubah, mereka pun tak pernah berhenti belajar. Dalam kata lain, kesuksesan bukanlah titik akhir, tapi proses yang terus diperbaharui—dengan membaca.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 878 - STEPHEN HAWKING

KATA BIJAK # 878 - STEPHEN HAWKING

"Kebodohan adalah ketika kamu tidak ingin belajar, bukan karena kamu tidak bisa."

[ Stephen Hawking ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Stephen Hawking ini mengingatkan kita bahwa kebodohan bukan soal kemampuan, tapi lebih pada sikap kita terhadap pembelajaran itu sendiri.
Terkadang, kita bisa merasa "bodoh" hanya karena kita malas atau enggan membuka diri untuk belajar hal-hal baru.
Tapi, apakah benar bahwa orang yang menolak belajar atau berubah bisa dianggap bodoh?
Apakah ada hal lain yang membuat seseorang enggan belajar?
Apakah kamu setuju bahwa kebodohan lebih berkaitan dengan sikap daripada kemampuan?
Apa yang bisa membuat seseorang enggan untuk belajar, padahal mereka bisa melakukannya?
Bagaimana cara kita mendorong diri sendiri dan orang lain untuk lebih terbuka terhadap pembelajaran?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 821 - ALVIN TOFFLER

KATA BIJAK # 821 - ALFIN TOFFLER

"Orang buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa belajar, melupakan, dan belajar lagi."

[ Alvin Toffler ]

KATA BIJAK # 757 -- ALBERT BANDURA

KATA BIJAK # 757 -- ALBERT BANDURA

"Anak belajar dengan meniru. Jadilah model yang baik, karena mereka selalu mengamati."

-- Albert Bandura [ Psikolog Kanada - Amerika, 1925 - sekarang ] --

-------------------------

KOMENTAR :

Anak-anak belajar bukan hanya melalui kata-kata, tetapi terutama melalui apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka menyerap sikap, kebiasaan, dan nilai dari orang-orang di sekitarnya seperti spons menyerap air. Inilah mengapa menjadi contoh yang baik jauh lebih penting daripada sekadar memberi nasihat. Ketika anak melihat orang dewasa bersikap jujur, sabar, atau penuh kasih, mereka akan meniru tanpa harus disuruh—karena perilaku itu tertanam lewat pengalaman langsung, bukan teori.

Anak tidak memilah mana yang layak ditiru atau tidak; mereka menyerap semuanya. Jika orang dewasa berkata satu hal tapi melakukan hal lain, anak menangkap kontradiksi itu dan bisa tumbuh bingung atau sinis. Sebaliknya, ketika mereka melihat keteladanan yang konsisten—misalnya bagaimana menghadapi masalah tanpa marah, atau bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat—mereka akan menyimpan pola itu sebagai bagian dari pembentukan karakter mereka sendiri. Tindakan menjadi guru yang paling efektif.

Secara filosofis, ini adalah refleksi tentang tanggung jawab dalam relasi antargenerasi. Anak bukan kertas kosong, melainkan cermin kecil dari lingkungan tempat ia tumbuh. Maka menjadi panutan bukan soal menjadi sempurna, tetapi sadar bahwa setiap pilihan kita berdampak pada cara mereka memahami dunia. Dengan menjadi model yang baik, kita tidak hanya membimbing anak hari ini, tapi juga ikut membentuk masa depan yang lebih beradab dan berempati.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 680-- IMAM MUHAMMAD AL-JAWAD

 

"Setiap mukmin membutuhkan tiga hal: taufik dari Allah SWT, mengambil pelajaran untuk diri dan kesediaan menerima nasihat dari orang lain."

-- Imam Muhammad Al-Jawad, 811 - 835 [ Bihar Al-Anwar, juz 75, hal. 358 ]  --

KATA BIJAK # 673 -- ROBERT KIYOSAKI

KATA BIJAK # 673 -- ROBERT KIYOSAKI

"Di dunia nyata, orang terpandai adalah orang yang membuat kesalahan dan belajar. Di sekolah, orang terpandai adalah orang yang tidak membuat kesalahan."

-- Robert Kiyosaki [ Investor, Pengusaha dan Penulis dari Amerika Serikat, 1947 - sekarang ] --

-------------------------

KOMENTAR :

Kutipan Robert T. Kiyosaki ini mengajak kita untuk berpikir ulang tentang bagaimana kita melihat "kecerdasan".

Di dunia nyata, orang yang berani membuat kesalahan, kemudian belajar darinya, seringkali lebih sukses dan bijaksana daripada mereka yang hanya berfokus pada kesempurnaan.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 588 -- ANTHONY ROBBINS

Anthony Robbins

"Tidak ada kesuksesan sejati tanpa penolakan. Semakin banyak penolakan yang dialami maka semakin unggul, semakin banyak belajar, dan semakin dekat dengan harapan Anda."

-- Anthony Robbins [ Motivator dan Penulis dari Amerika Serikat, 1960 - sekarang ] --

KATA BIJAK # 496 -- NABI MUHAMMAD SAAW

“Dunia ditegakkan dengan empat hal: orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, orang bodoh yang tekun belajar, orang kaya yang tidak bakhil dengan kebaikan, orang fakir yang tak menjual akhiratnya.”

-- Nabi Muhammad saaw [ Nabi dan Rasul Terakhir, 570 - 632 ] --

KATA BIJAK # 97 -- GEORG WILHELM FRIEDRICH HEGEL

Hegel

 "Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah."

-- Georg Wilhelm Friedrich Hegel [ Filsuf dari Jerman, 1770 - 1831 ] --

KATA BIJAK # 93 -- JOHN QUINCY ADAMS

John Quincy Adams

 "Jika tindakan-tindakan Anda mengilhami orang lain untuk bermimpi lebih banyak, belajar lebih banyak, berbuat lebih banyak dan menjadi lebih baik, Anda adalah seorang pemimpin."

( "If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader." )


-- John Quincy Adams [ Negarawan, Presiden ke-6 dari Amerika Serikat, 1767 - 1848 ] --

-------------------------

Komentar :

Menjadi pemimpin sejati bukan soal jabatan, tapi tentang dampak yang ditinggalkan. Jika kehadiranmu membuat orang lain ingin tumbuh, memperluas cara berpikir mereka, dan memperbaiki hidup mereka, maka kamu sedang memimpin, meski tanpa gelar apa pun. Pengaruh yang membangkitkan semangat adalah fondasi dari kepemimpinan yang otentik. 

Inspirasi yang lahir dari tindakan nyata jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata. Orang-orang akan lebih mudah mengikuti jejak, bukan instruksi. Maka, kepemimpinan sejati tumbuh dari konsistensi, ketulusan, dan keinginan untuk melihat orang lain menjadi versi terbaik dari dirinya. 

Pemimpin sejati tidak memaksa arah, tapi menerangi jalan. Ia tidak sekadar menciptakan pengikut, tapi melahirkan pemimpin-pemimpin baru.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 76 -- PELE

Pele

 "Kesuksesan bukanlah kebetulan. Itu adalah kerja keras, ketekunan, belajar, berlatih, berkorban, dan yang paling penting dari semua itu, cintailah apa yang sedang Anda lakukan."

("Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice, and most of all, love of what you are doing.")

-- Pele [ Atlit, Legenda Sepakbola asal Brazil, 1940 - sekarang ] --

KATA BIJAK # 68 -- K.H. A. MUSTOFA BISRI

K.H. A. Mustofa Bisri

 "Kesombongan tidak mampu menutupi kebodohan, bahkan justru memperjelas. Kebodohan hanya bisa terkikis oleh kerendahan hati untuk terus belajar."

-- K.H. A- Mustofa Bisri [ Rais Syuriah PBNU ]--

KATA BIJAK # 57 -- BRUCE LEE

KATA BIJAK # 57 -- BRUCE LEE

"Semua orang ingin belajar cara menang, tetapi tidak seorang pun ingin belajar cara menerima kekalahan."

-- Bruce Lee [ Aktor, Sutradara dan Penulis dari Cina - Amerika, 1940 - 1973 ] --

-------------------------

KOMENTAR :

Pernyataan ini mengungkap sebuah realitas emosional yang dalam: kebanyakan orang tertarik pada kesuksesan, tapi enggan menghadapi atau memaknai kegagalan. Kita diajarkan untuk mengejar kemenangan, meraih prestasi, dan menjadi yang terbaik—namun jarang diajarkan bagaimana caranya kalah dengan bermartabat, bangkit, dan tetap belajar dari situ.

Padahal, kemampuan menerima kekalahan dengan kepala tegak adalah bagian penting dari pertumbuhan mental dan emosional. Kekalahan sering kali lebih banyak mengajarkan kita tentang diri sendiri—tentang kesabaran, keikhlasan, evaluasi, dan daya tahan—dibanding kemenangan yang kadang meninabobokan.

Belajar menang memang penting, tapi belajar kalah membuat kita tangguh dan bijaksana. Orang yang bisa menerima kekalahan dengan sikap dewasa akan jauh lebih siap menghadapi tantangan besar dalam hidup, karena ia tidak takut jatuh—dan tahu cara bangkit.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/Kasih.tulus.921 

KATA BIJAK # 42 -- JOYCE BROTHERS

Joyce Brothers

 "Seseorang yang tertarik pada kesuksesan harus  belajar untuk melihat kegagalan sebagai bagian yang sehat dan tak terhindarkan dari proses menuju puncak."

( "A person interested in success has to learn to see failure as a healthy, inevitable part of the process leading to the top." )

-- Joyce Brothers [ Psikolog, Tokoh Televisi dan    Kolumnis dari Amerika Serikat, 1927 - 2013 ] --

KATA BIJAK # 36 -- MOHAMMAD HATTA

KATA BIJAK # 36 -- MOHAMMAD HATTA

"Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Nmaun tidak jujur itu sulit diperbaiki."
-- Mohammad Hatta [ Negarawan, Ekonom, Tokoh Proklamator dan Wakil Presiden Indonesia Pertama, 1902 - 1980 ] --

-------------------------

Komentar :

Pernyataan Bung Hatta ini menggambarkan kedalaman moralitas dalam pembangunan karakter seseorang. Kecerdasan dan kecakapan adalah aspek yang bisa dikembangkan melalui proses belajar dan pengalaman—dua hal yang bisa dicapai siapa saja asalkan ada kemauan dan kesempatan. Tapi kejujuran adalah soal integritas batin; ia bukan hanya keterampilan, melainkan fondasi etika yang melekat dalam diri seseorang.
Jika seseorang kurang cerdas, ia bisa membaca, bertanya, dan berpikir lebih giat. Jika kurang terampil, ia bisa mencoba, gagal, dan terus memperbaiki diri lewat pengalaman. Tapi jika seseorang sudah terbiasa tidak jujur, maka yang rusak bukan hanya perilaku luar, melainkan nilai-nilai di dalam. Kebiasaan berbohong, memanipulasi, atau menipu, jika dibiarkan, akan membentuk karakter yang sulit diubah karena sudah menjadi bagian dari cara pandang hidupnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa dalam masyarakat yang ingin maju dan beradab, kejujuran bukan hal sepele. Ia adalah syarat dasar kepercayaan, dan tanpa kepercayaan, tidak ada fondasi bagi kerja sama, kepemimpinan yang adil, atau pembangunan yang berkelanjutan. Bung Hatta seolah ingin berkata: lebih baik miskin kecakapan, daripada kehilangan kejujuran.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921