Showing posts with label KORUPSI / KORUPTOR. Show all posts
Showing posts with label KORUPSI / KORUPTOR. Show all posts

KATA BIJAK # 1012 - ARISTOTELES

KATA BIJAK # 1012 - ARISTOTELES

“Korupsi dalam pemerintahan dimulai ketika hukum tidak lagi berlaku sama bagi semua orang.”

[ Aristoteles ]

*****

Kutipan Aristoteles ini menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi utama pemerintahan yang sehat. Hukum diciptakan untuk mengatur kehidupan bersama dan menjamin kesetaraan setiap warga negara di hadapannya. Ketika hukum diterapkan secara pilih kasih—menguntungkan kelompok tertentu dan merugikan yang lain—maka keadilan runtuh, dan dari situlah korupsi mulai tumbuh.

Korupsi tidak selalu muncul dalam bentuk suap atau penyalahgunaan uang negara, tetapi juga dalam bentuk perlakuan istimewa, impunitas, dan ketidaksetaraan hukum. Jika pejabat atau kelompok berkuasa kebal terhadap hukum sementara rakyat biasa dihukum dengan tegas, kepercayaan publik terhadap pemerintahan akan hilang. Ketidakadilan semacam ini membuka ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan yang semakin meluas.

Melalui kutipan ini, Aristoteles mengingatkan bahwa pemerintahan yang adil menuntut supremasi hukum yang benar-benar setara. Tanpa kesetaraan di depan hukum, negara akan kehilangan legitimasi moralnya. Oleh karena itu, penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif bukan hanya soal aturan, tetapi merupakan syarat mutlak untuk mencegah korupsi dan menjaga keutuhan kehidupan bernegara.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/17ke3QVArq/

KATA BIJAK # 816 -- PLATO


"Jika Anda harus melanggar hukum, lakukanlah untuk merampas kekuasaan yang korup."

-- Plato [ Filsuf Yunani Kuno, 427 - 347 SM ] --

KATA BIJAK # 287 -- GEORGE ORWELL

KATA BIJAK # 287 -- GEORGE ORWELL

"Penguasa yang korup akan membuatmu percaya bahwa musuh terbesarmu adalah kelompok di seberang tembok, bukan mereka yang menjarah istana."

-- George Orwell [ Penulis dari Inggris, 1903 - 1950 ] --

-------------------------

KOMENTAR :

Strategi klasik pengalihan isu: ciptakan musuh imajiner agar rakyat lupa pada penindasan sistematis. Orwell mengungkap bagaimana kekuasaan memanfaatkan perpecahan untuk melanggengkan dominasi.

Lihatlah politik identitas masa kini: isu SARA sengaja dipanas-panasi agar publik tidak fokus pada korupsi elit atau kebijakan timpang. "Divide et impera" bukan warisan Romawi, tapi senjata abadi oligarki.

Waspadai narasi yang mengadu-domba! Selalu tanya: "Siapa yang diuntungkan jika kita saling benci?" Fokus pada substansi, bukan provokasi.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/Kasih.tulus.921