"Kekhawatiranku bukan pada kebebasan berbicara, melainkan pada kebodohan yang dibungkus dengan suara mayoritas."
[ Socrates ]
*****
Komentar :
Kekhawatiran terbesar dalam kehidupan
bersama bukanlah ketika semua orang bebas berbicara, melainkan ketika kebebasan
itu tidak disertai tanggung jawab berpikir. Suara yang lantang sering dianggap
benar hanya karena jumlahnya banyak, bukan karena isinya bermakna. Di titik
ini, kebenaran mulai kalah oleh keramaian.
Masalah muncul saat mayoritas tidak lagi
mau belajar, tapi ingin didengar. Pendapat disebar cepat tanpa dipahami, emosi
dijadikan argumen, dan kebingungan diklaim sebagai keberanian. Ketika ini
terjadi, kebebasan berubah fungsi dari alat pencerahan menjadi alat pembenaran.
Contoh yang dekat terlihat di media
sosial. Sebuah opini keliru bisa viral karena diulang ribuan kali. Banyak orang
ikut membagikan tanpa membaca tuntas, lalu marah saat dikritik. Jumlah like
menjadi pengganti akal sehat.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal serupa
terjadi saat keputusan bersama diambil hanya karena ikut suara terbanyak. Rapat
warga, pilihan pemimpin, bahkan penilaian moral sering ditentukan oleh tekanan
sosial, bukan pertimbangan rasional. Yang berbeda dianggap salah sebelum sempat
menjelaskan.
Bahaya sesungguhnya bukan pada orang
yang tidak tahu, tetapi pada situasi yang memberi panggung besar pada
ketidaktahuan. Ketika berpikir kritis dianggap mengganggu keharmonisan,
kebodohan justru dilindungi atas nama persatuan.
Jika kebebasan ingin tetap bermakna, ia
harus berjalan seiring dengan kesadaran. Suara mayoritas seharusnya lahir dari
pemahaman, bukan sekadar kebiasaan ikut-ikutan. Tanpa itu, kebebasan hanya akan
mempercepat kesesatan bersama.
-------------------------
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/16ysBGaxMN/


No comments:
Post a Comment