Showing posts with label PENGUASA / KEKUASAAN. Show all posts
Showing posts with label PENGUASA / KEKUASAAN. Show all posts

KATA BIJAK # 1016 - NOAM CHOMSKY

KATA BIJAK # 1016 - NOAM CHOMSKY

"Ketika orang takut, mereka lebih mudah dikendalikan. Itulah mengapa kekuasaan selalu menciptakan musuh."

[ Noam Chomsky ]

-------------------------

Komentar :

Itulah mengapa kekuasaan selalu mencipta musuh,” mengungkap mekanisme halus dalam praktik kekuasaan. Ketakutan melemahkan nalar kritis; dalam kondisi terancam, manusia cenderung mencari perlindungan, bahkan jika itu berarti menyerahkan kebebasan berpikir dan bertindak.

Penciptaan musuh—baik nyata maupun imajiner—menjadi alat efektif untuk memelihara rasa takut tersebut. Musuh memberi wajah pada kecemasan kolektif, sekaligus membenarkan kebijakan represif, pengawasan berlebihan, atau ketidakadilan atas nama keamanan. Dalam suasana seperti ini, pertanyaan kritis mudah dicap sebagai ancaman, dan ketaatan dianggap sebagai kebajikan.

Chomsky mengingatkan pentingnya kewaspadaan intelektual. Ketika ketakutan diproduksi secara sistematis, tugas warga adalah mempertanyakan narasi yang dibangun kekuasaan. Hanya dengan kesadaran dan keberanian berpikir kritis, masyarakat dapat membedakan antara ancaman nyata dan ketakutan yang sengaja diciptakan untuk mengendalikan.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1CmvfxJ9y2/

KATA BIJAK # 1009 - EMMY HAFID

“Kerusakan alam bukan hanya karena bencana, tapi karena keserakahan yang dilindungi kekuasaan.”

[ Emmy Hafild ]

-------------------------

Komentar :

1. Kerusakan alam lebih sering disebabkan manusia daripada bencana alam

Kutipan ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan jarang murni berasal dari proses alam seperti gempa atau letusan gunung.

Justru yang paling merusak adalah tindakan manusia: pembalakan hutan, penambangan liar atau legal yang tidak berkelanjutan, pencemaran industri, reklamasi yang merusak ekosistem, dan eksploitasi tanpa batas.

Dengan kata lain, yang merusak bukan “alam”, tetapi pilihan manusia.

2. Keserakahan adalah sumber utama kerusakan

Kutipan ini menyoroti bahwa banyak kerusakan terjadi karena dorongan: mengejar keuntungan cepat, memaksimalkan profit, mengekstraksi sumber daya tanpa batas.

Keserakahan ini membuat manusia tidak peduli terhadap dampak jangka panjang, keselamatan ekosistem, dan nasib masyarakat lokal.

3. Kekuasaan melindungi pelaku perusakan

Inilah inti kritik dari Emmy Hafild, yang selama bertahun-tahun memperjuangkan keadilan lingkungan: kerusakan besar sering terjadi karena pelaku memiliki hubungan dengan kekuasaan.

Kekuasaan dapat melindungi keserakahan melalui: kebijakan yang memihak korporasi, perizinan yang longgar, penegakan hukum yang selektif, kriminalisasi masyarakat lokal, atau pembungkaman aktivis lingkungan.

Kutipan ini menegaskan bahwa kerusakan besar bukan terjadi karena “tak ada yang bisa menahan”, tetapi karena ada yang melindungi.

4. Ketidakadilan ekologis dan sosial berjalan bersama

Ketika kekuasaan melindungi pihak yang merusak, yang paling dirugikan adalah: masyarakat adat, petani, nelayan, komunitas pedesaan, generasi mendatang.

Mereka kehilangan: air bersih, tanah, hutan, mata pencaharian, dan ruang hidup.

Karena itu, kutipan ini menekankan bahwa kerusakan alam juga merupakan isu keadilan sosial.

5. Inti pesan

Kutipan ini bukan hanya kritik terhadap perilaku individu, tetapi terhadap sistem kekuasaan yang memungkinkan keserakahan merusak bumi.

Pesannya jelas:

Jika kerusakan alam ingin dihentikan, bukan hanya perilaku manusia yang perlu berubah, tetapi juga struktur kekuasaan yang melindungi perusakan.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1KqFcPTS6C/

KATA BIJAK # 991 - HANS KELSEN

KATA BIJAK # 991 - HANS KELSEN

"Hukum tidak boleh menjadi alat kekuasaan, tetapi pelindung bagi semua yang hidup di bawahnya."

[ Hans Kelsen ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Hans Kelsen ini mengingatkan kita pada salah satu prinsip dasar sistem hukum yang ideal: hukum seharusnya berfungsi sebagai pelindung bagi semua individu, tanpa terkecuali.
Hukum bukanlah alat untuk memperkuat kekuasaan, tetapi harus menjadi jaring pengaman yang melindungi hak dan kebebasan setiap orang.
Namun, kenyataannya sering kali kita menyaksikan sebaliknya—hukum malah digunakan untuk mempertahankan kekuasaan atau kepentingan tertentu.
Apakah hukum di Indonesia saat ini lebih banyak digunakan untuk melindungi kepentingan orang berkuasa?
Ataukah justru, hukum benar-benar bekerja untuk melindungi rakyat biasa, yang sering kali menjadi korban ketidakadilan?
Misalnya, kita sering mendengar tentang "keadilan selektif", di mana hukum bisa tampak tumpul bagi sebagian orang dan tajam bagi yang lain.
Atau ketika hukum dipakai untuk mengekang kebebasan berbicara dan berpendapat, bukannya untuk melindungi hak dasar tersebut.
Apa pendapatmu?
Apakah hukum di negara kita sudah berfungsi dengan baik sebagai pelindung bagi semua pihak?
Atau justru sebaliknya, apakah hukum lebih sering digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan mempertahankan kekuasaan?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 885 - IMAM JA'FAR ASH-SHADIQ

KATA BIJAK # 885 - IMAM JA'FAR ASH-SHADIQ

"Ulama adalah kepercayaan para rasul. Bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka."

[ Imam Ja'far Ash-Shadiq ]

KATA BIJAK # 881 - EDWARD GIBBON

KATA BIJAK # 881 - EDWARD GIBBON

"Semakin besar kekuasaan semakin dalam jurang jika tak terkendali."

[ Edward Gibbon ]

KATA BIJAK # 816 -- PLATO


"Jika Anda harus melanggar hukum, lakukanlah untuk merampas kekuasaan yang korup."

-- Plato [ Filsuf Yunani Kuno, 427 - 347 SM ] --

KATA BIJAK # 687 -- THOMAS BABINGTON MACAULAY

Thomas Babington Macaulay

"Bukti tertinggi pencapaian sebuah nilai adalah memiliki kekuasaan tak terbatas namun tanpa menyalahgunakannya."

-- Thomas Babington Macaulay [ Sejarawan, Politisi dan Penulis dari Inggris, 1800 - 1859 ] --

KATA BIJAK # 624 -- EPICTETUS

KATA BIJAK # 624 -- EPICTETUS

"Ketika kekuasaan menjadi hukum, keadilan menghilang."

-- Epictetus [ Filsuf dari Romawi Kuno, 50-130 ] --

-------------------------

Komentar :

Kutipan Epictetus ini mengingatkan kita tentang bahaya ketika kekuasaan seolah-olah mengendalikan hukum. 

Dalam kondisi ini, hukum tidak lagi berfungsi untuk menegakkan keadilan, tetapi justru digunakan sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan semata. 

Ini membawa kita pada pertanyaan penting: apakah hukum bisa tetap adil jika kekuasaan terlalu dominan? 

Pikirkan sejenak: bagaimana jika hukum lebih melayani kepentingan pemegang kekuasaan daripada masyarakat? 

Apakah keadilan masih bisa tercapai dalam sistem seperti itu? 

Apakah kamu setuju dengan kutipan Epictetus ini bahwa kekuasaan yang tidak terkendali bisa menghancurkan keadilan? 

Dalam konteks modern, apakah kamu merasa ada contoh di mana hukum justru digunakan untuk menguntungkan pihak tertentu, bukan untuk keadilan? 

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk memastikan bahwa hukum tetap adil, meski ada kekuasaan besar di dalamnya?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 287 -- GEORGE ORWELL

KATA BIJAK # 287 -- GEORGE ORWELL

"Penguasa yang korup akan membuatmu percaya bahwa musuh terbesarmu adalah kelompok di seberang tembok, bukan mereka yang menjarah istana."

-- George Orwell [ Penulis dari Inggris, 1903 - 1950 ] --

-------------------------

KOMENTAR :

Strategi klasik pengalihan isu: ciptakan musuh imajiner agar rakyat lupa pada penindasan sistematis. Orwell mengungkap bagaimana kekuasaan memanfaatkan perpecahan untuk melanggengkan dominasi.

Lihatlah politik identitas masa kini: isu SARA sengaja dipanas-panasi agar publik tidak fokus pada korupsi elit atau kebijakan timpang. "Divide et impera" bukan warisan Romawi, tapi senjata abadi oligarki.

Waspadai narasi yang mengadu-domba! Selalu tanya: "Siapa yang diuntungkan jika kita saling benci?" Fokus pada substansi, bukan provokasi.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/Kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 91 -- KARL MARX

KATA BIJAK # 91 -- KARL MARX

"Tanpa pendidikan manusia cenderung menjadi sempit dalam pandangan, terbatas dalam aspirasi, dan rentan terhadap dominasi kekuasaan."

-- Karl Marx [ Filsuf, Ekonom, Sejarawan dan  Sosiolog dari  Jerman, 1818 - 1883 ] -- 

-------------------------

KOMENTAR :

Manusia tidak dilahirkan dengan kebijaksanaan, melainkan dengan potensi yang dapat dibentuk. Tanpa pendidikan, sifat dasar manusia cenderung tetap terperangkap dalam naluri dan kepentingan diri. Karl Marx memandang manusia sebagai makhluk historis yang dapat berubah melalui hubungan sosial dan proses pembelajaran. Bagi Marx, manusia bukan sekadar makhluk alam, tetapi makhluk yang membentuk dan dibentuk oleh masyarakatnya. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi proses revolusioner yang memungkinkan manusia menyadari posisinya dalam dunia dan mengubah dirinya secara sadar. Dalam pemahaman ini, pendidikan menjadi alat untuk membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan dan struktur yang menindas.

Dalam The Wealth of Nations, Adam Smith menekankan pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas individu dan memperhalus perilaku masyarakat. Smith menyatakan bahwa tanpa pendidikan, manusia cenderung menjadi sempit dalam pandangan, terbatas dalam aspirasi, dan rentan terhadap dominasi kekuasaan. Dalam kerangka Marx, gagasan ini menjadi semakin radikal bahwa sistem pendidikan yang adil adalah jembatan menuju kesadaran kelas dan emansipasi manusia. Maka, pendidikan sejati tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membangkitkan kesadaran kritis. Ia menanamkan keberanian untuk berpikir, memahami ketimpangan, dan mengubah kondisi hidup. Inilah transformasi yang tidak datang dari dalam secara spontan, melainkan ditumbuhkan melalui proses pembelajaran yang terus-menerus.

Karl Marx meyakini bahwa manusia adalah produk dari kondisi materialnya. Namun, melalui pendidikan yang membebaskan, manusia dapat melampaui keterbatasan historisnya. Ketika individu diajak berpikir secara reflektif dan kritis, ia mulai melihat dirinya bukan sebagai korban keadaan, tetapi sebagai agen perubahan. Pendidikan, dalam pandangan Marx, adalah fondasi revolusi kesadaran, tempat di mana struktur sosial lama diuji dan nilai-nilai baru dilahirkan. Maka, sifat manusia memang tidak dapat berubah dengan sendirinya, tetapi bisa dibentuk kembali dengan terang pengetahuan dan keberanian moral. Pendidikan adalah cahaya yang menyulut harapan akan perubahan yang lebih adil, lebih bermartabat, dan lebih manusiawi.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921