"Kekuatan sebuah bangsa bukan terletak pada kekayaannya, tetapi pada pikiran rakyatnya yang telah terbangun."
-- Tan Malaka --
"Kekuatan sebuah bangsa bukan terletak pada kekayaannya, tetapi pada pikiran rakyatnya yang telah terbangun."
-- Tan Malaka --
"Sebodoh-bodohnya manusia adalah yang tak tahu dirinya dibodohi."
[ Pramoedya Ananta Toer ]
----------
Komentar :
Sebodoh-bodohnya manusia adalah yang tak tahu dirinya
dibodohi. Kita hidup di dunia yang penuh cerita, penuh sejarah, penuh aturan
yang tampak suci, tetapi sering kali dibuat untuk menjerat kita. Orang-orang
yang bodoh tidak selalu mereka yang tak bisa membaca, atau tak bisa menghitung;
bodoh itu adalah ketika kita menerima apa yang disodorkan tanpa pertanyaan,
tanpa curiga, tanpa keberanian untuk menolak.
Di setiap sudut negeri, orang-orang dibodohi oleh janji
manis, oleh kata-kata indah yang mengelabui mata, dan oleh tradisi yang
dibungkus sebagai kewajaran. Kita diajari hormat, tapi tidak diajari berpikir.
Kita diajari mengikuti, tapi tidak diajari bertanya. Dan mereka yang tidak
sadar dibodohi akan terus mengulangi sejarah yang sama: menindas, ditindas, dan
diam saja ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.
Manusia yang paling berbahaya adalah manusia yang tidak sadar
bahwa ia dijadikan alat, pion dalam permainan kekuasaan, dan penonton bagi
penderitaan sendiri. Kesadaran adalah satu-satunya jalan keluar. Ketika kita
tahu kita dibodohi, kita mulai bertanya, mulai menolak, dan mulai menulis ulang
nasib sendiri.
Karena bodoh yang sadar adalah awal dari perlawanan. Dan perlawananlah yang menandai manusia sejati, manusia yang hidup bukan hanya untuk diteruskan, tapi untuk memahami dan menuntut keadilan.
"Tak ada kemerdekaan sejati bila petani tetap miskin di negeri yang subur."
[ Tan Malaka ]
-------------------------
Komentar :
Kutipan ini mengajak kita untuk
merenung, apakah kemerdekaan yang kita rayakan benar-benar mencerminkan
keadilan dan kesejahteraan untuk semua?
Tan Malaka, seorang tokoh besar dalam
sejarah perjuangan Indonesia, mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan hanya
soal kebebasan dari penjajahan, tapi juga tentang memberi kehidupan yang layak
kepada mereka yang paling berdedikasi untuk tanah air—seperti petani kita.
Kita hidup di negeri yang subur dengan
kekayaan alam yang melimpah.
Namun, ironisnya, banyak petani yang
masih bergelut dengan kemiskinan.
Mereka yang mengolah tanah, menanam
padi, sayur, buah-buahan, dan memberikan makan kepada kita, justru sering kali
hidup dalam serba kekurangan.
Dimanakah keadilan dalam hal ini?
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1WXNpFg6Lv/
“Kerusakan alam bukan hanya karena
bencana, tapi karena keserakahan yang dilindungi kekuasaan.”
[ Emmy Hafild ]
-------------------------
Komentar :
1. Kerusakan alam lebih sering
disebabkan manusia daripada bencana alam
Kutipan ini menunjukkan bahwa kerusakan
lingkungan jarang murni berasal dari proses alam seperti gempa atau letusan
gunung.
Justru yang paling merusak adalah
tindakan manusia: pembalakan hutan, penambangan liar atau legal yang tidak
berkelanjutan, pencemaran industri, reklamasi yang merusak ekosistem, dan
eksploitasi tanpa batas.
Dengan kata lain, yang merusak bukan
“alam”, tetapi pilihan manusia.
2. Keserakahan adalah sumber utama
kerusakan
Kutipan ini menyoroti bahwa banyak
kerusakan terjadi karena dorongan: mengejar keuntungan cepat, memaksimalkan
profit, mengekstraksi sumber daya tanpa batas.
Keserakahan ini membuat manusia tidak
peduli terhadap dampak jangka panjang, keselamatan ekosistem, dan nasib
masyarakat lokal.
3. Kekuasaan melindungi pelaku perusakan
Inilah inti kritik dari Emmy Hafild,
yang selama bertahun-tahun memperjuangkan keadilan lingkungan: kerusakan besar
sering terjadi karena pelaku memiliki hubungan dengan kekuasaan.
Kekuasaan dapat melindungi keserakahan
melalui: kebijakan yang memihak korporasi, perizinan yang longgar, penegakan
hukum yang selektif, kriminalisasi masyarakat lokal, atau pembungkaman aktivis
lingkungan.
Kutipan ini menegaskan bahwa kerusakan
besar bukan terjadi karena “tak ada yang bisa menahan”, tetapi karena ada yang
melindungi.
4. Ketidakadilan ekologis dan sosial
berjalan bersama
Ketika kekuasaan melindungi pihak yang
merusak, yang paling dirugikan adalah: masyarakat adat, petani, nelayan,
komunitas pedesaan, generasi mendatang.
Mereka kehilangan: air bersih, tanah,
hutan, mata pencaharian, dan ruang hidup.
Karena itu, kutipan ini menekankan bahwa
kerusakan alam juga merupakan isu keadilan sosial.
5. Inti pesan
Kutipan ini bukan hanya kritik terhadap
perilaku individu, tetapi terhadap sistem kekuasaan yang memungkinkan
keserakahan merusak bumi.
Pesannya jelas:
Jika kerusakan alam ingin dihentikan,
bukan hanya perilaku manusia yang perlu berubah, tetapi juga struktur kekuasaan
yang melindungi perusakan.
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1KqFcPTS6C/
"Lebih baik tak seiman dalam agama tapi seiman dalam moral toleransi, ketimbang seiman dalam agama tapi tak seiman dalam moral toleransi."
[ Muhsin Labib ]
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1HC3JN368t/
"Logika itu senjata. Tanpa logika, manusia cuma jadi budak yang pintar berdoa tapi tidak tahu arah."
[ Tan Malaka ]
-------------------------
Komentar :
Logika adalah alat paling mendasar yang
membuat manusia mampu membedakan keyakinan dari kebingungan, kebenaran dari
manipulasi. Tanpa logika, pikiran mudah diseret oleh emosi, tradisi, atau
otoritas tanpa pernah bertanya ke mana semua itu membawa kita. Seseorang bisa
rajin berdoa, tekun menjalankan ritual, dan fasih mengucap kata-kata suci,
namun tetap berjalan tanpa arah jika akalnya tidak digunakan. Dalam kondisi
seperti itu, manusia bukan kehilangan iman, melainkan kehilangan kendali atas
pikirannya sendiri.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak
penindasan justru bertahan karena logika sengaja dimatikan. Ketika orang tidak
dibiasakan berpikir kritis, mereka mudah menerima ketidakadilan sebagai takdir,
kesalahan sebagai kewajaran, dan kebohongan sebagai kebenaran. Doa pun berubah
fungsi: bukan lagi sarana refleksi dan penguatan moral, melainkan pelarian dari
tanggung jawab berpikir. Tanpa logika, keimanan berisiko direduksi menjadi
kepatuhan buta, dan manusia perlahan berubah menjadi objek yang digerakkan,
bukan subjek yang menentukan arah hidupnya sendiri.
Logika tidak bertentangan dengan spiritualitas; justru
ia menjaga agar spiritualitas tidak kehilangan makna. Dengan logika, manusia
dapat menimbang, memahami, dan menempatkan keyakinannya secara dewasa dan
bertanggung jawab. Ia tahu mengapa ia percaya, ke mana ia melangkah, dan untuk
apa ia hidup. Di titik inilah manusia tidak lagi sekadar pintar berdoa, tetapi
juga sadar arah. Logika menjadi senjata pembebasan—bukan untuk melawan iman,
melainkan untuk memastikan iman berjalan bersama kesadaran.
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/16jjzXmPAK/
"Berikan pujian sebagai sedekah, dan terimalah pujian sebagai doa."
[ Muhsin Labib ]
---------------------------
Komentar :
Banyak orang yang mengira bahwa sedekah hanya sebatas pemberian berupa materi. Tanpa disadari, ketika memiliki anggapan seperti ini maka berarti orang tersebut adalah seorang materialis.
Sedekah bukan hanya berupa materi, melainkan juga bentuk pujian. Terutama pujian yang tulus, bukannya dalam rangka menjilat. Pujian bisa merupakan sebuah bentuk dukungan dan motivasi.
Dan ketika dipuji, terlepas dari tulus atau tidaknya, anggaplah sebagai sebuah doa yang berharap semoga demikianlah yang ada dan akan terjadi.
"Jati diri yang kuat adalah kunci untuk menghadapi tantangan hidup."
[ Ki Hajar Dewantara ]
-------------------------
KOMENTAR :
Kutipan Ki Hajar Dewantara ini mengajarkan kita bahwa memiliki jati diri yang kuat adalah fondasi utama untuk menghadapi segala rintangan dalam hidup.
Tanpa jati diri yang kokoh, kita bisa mudah terombang-ambing oleh perubahan, tantangan, atau bahkan pendapat orang lain yang bisa membuat kita kehilangan arah.
Tapi, bagaimana cara kita membangun jati diri yang kuat?
Apakah itu berarti kita harus tahu persis siapa diri kita, atau justru berani menghadapi ketidakpastian dalam perjalanan mencari jati diri?
Bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan antara beradaptasi dengan dunia dan tetap setia pada nilai-nilai kita sendiri?
Pernahkah kamu mengalami momen di mana kamu merasa ujian hidup terasa lebih ringan karena kamu yakin pada siapa dirimu?
Atau, adakah tantangan yang justru membuat kamu meragukan jati dirimu?
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/literasikata.id
"Di zaman digital, menjaga nalar adalah jihad intelektual."
[ Ahmad Syafii Maarif ]
-------------------------
Komentar :
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/literasikata.id
"Ketika membaca bukan lagi kebiasaan, maka kebodohan menjadi tradisi."
[ Pramoedya Ananta Toer ]
-------------------------
Komentar :
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/literasikata.id
"Jangan biarkan dirimu terpenjara oleh rutinitas.
Hidup adalah petualangan, bukan penjara."
[ W. S. Rendra ]
-------------------------
KOMENTAR :
Pernah merasa seperti hidup hanya berputar di tempat? Bangun, kerja, pulang, tidur—lalu ulangi lagi. Kadang kita lupa, bahwa hidup ini seharusnya lebih dari sekadar bertahan.
Kita semua butuh rutinitas, tapi jangan sampai itu membungkam jiwa petualang dalam diri kita.
Pertanyaannya: kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu "di luar kebiasaan" yang membuatmu merasa hidup?
Atau, "apa 'petualangan kecil' yang ingin sekali kamu coba, tapi belum kesampaian?"
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/literasikata.id
"Kebenaran seringkali pahit, tetapi lebih baik daripada kebohongan yang manis."
[ Mochtar Lubis ]
-------------------------
KOMENTAR :
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/Kasih.tulus.921
"Kebodohan terbesar adalah membiarkan ketidakadilan terus berjalan."
[ Helvy Tiana Rosa ]
-------------------------
Komentar :
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/kasih.tulus.921
"Baca buku itu tidak bisa diganti dengan tiktok dan nonton film. Karena kerja otak hanya bisa dilatih menjadi tajam kalau otak itu berdialog (yaitu dengan baca buku)."
[ Karlina Supelli ]
-------------------------
Komentar :
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Diambil dari :
https://web.facebook.com/kasih.tulus.921
"Jatuh bangunnya negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar untaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi."
[ Mohammad Hatta ]
"Pendidikan adalah perjuangan untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan."
[ K. H. Abdurrahman Wahid ]
"Jika sistem itu tak bisa diperiksa kebenarannya atau tak tak bisa dikritik, maka akan mati juga ilmu pasti itu."
[ Tan Malaka ]
-- K. H. Abdurrahman Wahid / Gus Dur [ Tokoh Agama, Politisi, Presiden Indonesia ke-4 (1999 - 2001), Ketua Majelis Ulama Indonesia (1987 - 1992), Ketua Dewan Tanfidz PBNU (1984 - 2000) ] --
-- Andrie Wongso [ Motivator ] --
-- Joko Widodo [ Presiden Republik Indonesia ke-7 ] --