Showing posts with label TOKOH INDONESIA. Show all posts
Showing posts with label TOKOH INDONESIA. Show all posts

KATA BIJAK # 1022 - TAN MALAKA

KATA BIJAK # 1022 - TAN MALAKA

"Kekuatan sebuah bangsa bukan terletak pada kekayaannya, tetapi pada pikiran rakyatnya yang telah terbangun."

-- Tan Malaka --

KATA BIJAK # 1020 - PRAMOEDYA ANANTA TOER

"Sebodoh-bodohnya manusia adalah yang tak tahu dirinya dibodohi."

[ Pramoedya Ananta Toer ]

----------

Komentar :

Sebodoh-bodohnya manusia adalah yang tak tahu dirinya dibodohi. Kita hidup di dunia yang penuh cerita, penuh sejarah, penuh aturan yang tampak suci, tetapi sering kali dibuat untuk menjerat kita. Orang-orang yang bodoh tidak selalu mereka yang tak bisa membaca, atau tak bisa menghitung; bodoh itu adalah ketika kita menerima apa yang disodorkan tanpa pertanyaan, tanpa curiga, tanpa keberanian untuk menolak.

Di setiap sudut negeri, orang-orang dibodohi oleh janji manis, oleh kata-kata indah yang mengelabui mata, dan oleh tradisi yang dibungkus sebagai kewajaran. Kita diajari hormat, tapi tidak diajari berpikir. Kita diajari mengikuti, tapi tidak diajari bertanya. Dan mereka yang tidak sadar dibodohi akan terus mengulangi sejarah yang sama: menindas, ditindas, dan diam saja ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.

Manusia yang paling berbahaya adalah manusia yang tidak sadar bahwa ia dijadikan alat, pion dalam permainan kekuasaan, dan penonton bagi penderitaan sendiri. Kesadaran adalah satu-satunya jalan keluar. Ketika kita tahu kita dibodohi, kita mulai bertanya, mulai menolak, dan mulai menulis ulang nasib sendiri.

Karena bodoh yang sadar adalah awal dari perlawanan. Dan perlawananlah yang menandai manusia sejati, manusia yang hidup bukan hanya untuk diteruskan, tapi untuk memahami dan menuntut keadilan.

KATA BIJAK # 1011 - TAN MALAKA

KATA BIJAK # 1010 - JEAN JACQUES ROUSSEAU

"Tak ada kemerdekaan sejati bila petani tetap miskin di negeri yang subur."

[ Tan Malaka ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan ini mengajak kita untuk merenung, apakah kemerdekaan yang kita rayakan benar-benar mencerminkan keadilan dan kesejahteraan untuk semua?

Tan Malaka, seorang tokoh besar dalam sejarah perjuangan Indonesia, mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan hanya soal kebebasan dari penjajahan, tapi juga tentang memberi kehidupan yang layak kepada mereka yang paling berdedikasi untuk tanah air—seperti petani kita.

Kita hidup di negeri yang subur dengan kekayaan alam yang melimpah.

Namun, ironisnya, banyak petani yang masih bergelut dengan kemiskinan.

Mereka yang mengolah tanah, menanam padi, sayur, buah-buahan, dan memberikan makan kepada kita, justru sering kali hidup dalam serba kekurangan.

Dimanakah keadilan dalam hal ini?

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1WXNpFg6Lv/

KATA BIJAK # 1009 - EMMY HAFID

“Kerusakan alam bukan hanya karena bencana, tapi karena keserakahan yang dilindungi kekuasaan.”

[ Emmy Hafild ]

-------------------------

Komentar :

1. Kerusakan alam lebih sering disebabkan manusia daripada bencana alam

Kutipan ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan jarang murni berasal dari proses alam seperti gempa atau letusan gunung.

Justru yang paling merusak adalah tindakan manusia: pembalakan hutan, penambangan liar atau legal yang tidak berkelanjutan, pencemaran industri, reklamasi yang merusak ekosistem, dan eksploitasi tanpa batas.

Dengan kata lain, yang merusak bukan “alam”, tetapi pilihan manusia.

2. Keserakahan adalah sumber utama kerusakan

Kutipan ini menyoroti bahwa banyak kerusakan terjadi karena dorongan: mengejar keuntungan cepat, memaksimalkan profit, mengekstraksi sumber daya tanpa batas.

Keserakahan ini membuat manusia tidak peduli terhadap dampak jangka panjang, keselamatan ekosistem, dan nasib masyarakat lokal.

3. Kekuasaan melindungi pelaku perusakan

Inilah inti kritik dari Emmy Hafild, yang selama bertahun-tahun memperjuangkan keadilan lingkungan: kerusakan besar sering terjadi karena pelaku memiliki hubungan dengan kekuasaan.

Kekuasaan dapat melindungi keserakahan melalui: kebijakan yang memihak korporasi, perizinan yang longgar, penegakan hukum yang selektif, kriminalisasi masyarakat lokal, atau pembungkaman aktivis lingkungan.

Kutipan ini menegaskan bahwa kerusakan besar bukan terjadi karena “tak ada yang bisa menahan”, tetapi karena ada yang melindungi.

4. Ketidakadilan ekologis dan sosial berjalan bersama

Ketika kekuasaan melindungi pihak yang merusak, yang paling dirugikan adalah: masyarakat adat, petani, nelayan, komunitas pedesaan, generasi mendatang.

Mereka kehilangan: air bersih, tanah, hutan, mata pencaharian, dan ruang hidup.

Karena itu, kutipan ini menekankan bahwa kerusakan alam juga merupakan isu keadilan sosial.

5. Inti pesan

Kutipan ini bukan hanya kritik terhadap perilaku individu, tetapi terhadap sistem kekuasaan yang memungkinkan keserakahan merusak bumi.

Pesannya jelas:

Jika kerusakan alam ingin dihentikan, bukan hanya perilaku manusia yang perlu berubah, tetapi juga struktur kekuasaan yang melindungi perusakan.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1KqFcPTS6C/

KATA BIJAK # 1007 - MUHSIN LABIB

KATA BIJAK # 1007 - TMUHSIN LABIB

"Lebih baik tak seiman dalam agama tapi seiman dalam moral toleransi, ketimbang seiman dalam agama tapi tak seiman dalam moral toleransi."

[ Muhsin Labib ]

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1HC3JN368t/

KATA BIJAK # 1006 - TAN MALAKA

KATA BIJAK # 1006 - TAN MALAKA

"Logika itu senjata. Tanpa logika, manusia cuma jadi budak yang pintar berdoa tapi tidak tahu arah."

[ Tan Malaka ]

-------------------------

Komentar :

Logika adalah alat paling mendasar yang membuat manusia mampu membedakan keyakinan dari kebingungan, kebenaran dari manipulasi. Tanpa logika, pikiran mudah diseret oleh emosi, tradisi, atau otoritas tanpa pernah bertanya ke mana semua itu membawa kita. Seseorang bisa rajin berdoa, tekun menjalankan ritual, dan fasih mengucap kata-kata suci, namun tetap berjalan tanpa arah jika akalnya tidak digunakan. Dalam kondisi seperti itu, manusia bukan kehilangan iman, melainkan kehilangan kendali atas pikirannya sendiri.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak penindasan justru bertahan karena logika sengaja dimatikan. Ketika orang tidak dibiasakan berpikir kritis, mereka mudah menerima ketidakadilan sebagai takdir, kesalahan sebagai kewajaran, dan kebohongan sebagai kebenaran. Doa pun berubah fungsi: bukan lagi sarana refleksi dan penguatan moral, melainkan pelarian dari tanggung jawab berpikir. Tanpa logika, keimanan berisiko direduksi menjadi kepatuhan buta, dan manusia perlahan berubah menjadi objek yang digerakkan, bukan subjek yang menentukan arah hidupnya sendiri.

Logika tidak bertentangan dengan spiritualitas; justru ia menjaga agar spiritualitas tidak kehilangan makna. Dengan logika, manusia dapat menimbang, memahami, dan menempatkan keyakinannya secara dewasa dan bertanggung jawab. Ia tahu mengapa ia percaya, ke mana ia melangkah, dan untuk apa ia hidup. Di titik inilah manusia tidak lagi sekadar pintar berdoa, tetapi juga sadar arah. Logika menjadi senjata pembebasan—bukan untuk melawan iman, melainkan untuk memastikan iman berjalan bersama kesadaran.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/16jjzXmPAK/

KATA BIJAK # 1004 - MUHSIN LABIB


"Berikan pujian sebagai sedekah, dan terimalah pujian sebagai doa."

[ Muhsin Labib ]

---------------------------

Komentar :

Banyak orang yang mengira bahwa sedekah hanya sebatas pemberian berupa materi. Tanpa disadari, ketika memiliki anggapan seperti ini maka berarti orang tersebut adalah seorang materialis.

Sedekah bukan hanya berupa materi, melainkan juga bentuk pujian. Terutama pujian yang tulus, bukannya dalam rangka menjilat. Pujian bisa merupakan sebuah bentuk dukungan dan motivasi.

Dan ketika dipuji, terlepas dari tulus atau tidaknya, anggaplah sebagai sebuah doa yang berharap semoga demikianlah yang ada dan akan terjadi.

KATA BIJAK # 926 - KI HAJAR DEWANTARA

KATA BIJAK # 926 - KI HAJAR DEWANTARA

"Jati diri yang kuat adalah kunci untuk menghadapi tantangan hidup."

[ Ki Hajar Dewantara ]

-------------------------

KOMENTAR :


Kutipan Ki Hajar Dewantara ini mengajarkan kita bahwa memiliki jati diri yang kuat adalah fondasi utama untuk menghadapi segala rintangan dalam hidup. 

Tanpa jati diri yang kokoh, kita bisa mudah terombang-ambing oleh perubahan, tantangan, atau bahkan pendapat orang lain yang bisa membuat kita kehilangan arah. 

Tapi, bagaimana cara kita membangun jati diri yang kuat? 

Apakah itu berarti kita harus tahu persis siapa diri kita, atau justru berani menghadapi ketidakpastian dalam perjalanan mencari jati diri? 

Bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan antara beradaptasi dengan dunia dan tetap setia pada nilai-nilai kita sendiri? 

Pernahkah kamu mengalami momen di mana kamu merasa ujian hidup terasa lebih ringan karena kamu yakin pada siapa dirimu? 

Atau, adakah tantangan yang justru membuat kamu meragukan jati dirimu?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 883 - AHMAD SYAFII MAARIF

KATA BIJAK # 883 - AHMAD SYAFII MAARIF

"Di zaman digital, menjaga nalar adalah jihad intelektual."

[ Ahmad Syafii Maarif ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Ahmad Syafii Maarif ini dalam bukunya berjudul "Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman: Merawat Nilai-Nilai Esensial Ajaran, Meraih Makna-Makna Keadaban" mengingatkan kita bahwa di tengah derasnya arus informasi di zaman digital, menjaga nalar menjadi sebuah perjuangan intelektual.
"Di zaman digital, menjaga nalar adalah jihad intelektual."
Dalam dunia yang dipenuhi dengan berita, opini, dan informasi yang bisa datang dari mana saja, menjaga akal sehat dan berpikir jernih bukanlah hal yang mudah.
Menurut kamu, apa tantangan terbesar dalam menjaga nalar kita di era digital ini?
Apakah media sosial, berita hoaks, atau informasi yang tersebar luas tanpa verifikasi bisa memengaruhi cara kita berpikir?
Bagaimana kita bisa menghindari jebakan informasi yang menyesatkan dan tetap berpikir kritis di tengah kebisingan digital?
Apakah ada cara-cara khusus yang kalian lakukan untuk memastikan bahwa informasi yang kita terima tidak hanya benar, tetapi juga bijak?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 874 - PRAMOEDYA ANANTA TOER

KATA BIJAK # 874 - PRAMOEDYA ANANTA TOER

"Ketika membaca bukan lagi kebiasaan, maka kebodohan menjadi tradisi."

[ Pramoedya Ananta Toer ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan ini menampar, tapi juga membuka mata.
Di tengah serbuan konten instan dan scroll tanpa henti, kebiasaan membaca perlahan tergeser.
Padahal, membaca adalah salah satu cara paling sederhana untuk memperluas wawasan dan menjaga pikiran tetap hidup.
Apakah budaya membaca masih bertahan di lingkungan kita saat ini?
Apa yang menurutmu membuat orang jadi makin malas membaca—dan bagaimana kita bisa memperbaikinya?
Atau mungkin, kamu punya buku yang pernah mengubah cara pandangmu tentang hidup?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 863 - W. S. Rendra

KATA BIJAK # 863 - W. S. Rendra

"Jangan biarkan dirimu terpenjara oleh rutinitas.
Hidup adalah petualangan, bukan penjara."

[ W. S. Rendra ]

-------------------------

KOMENTAR :

Pernah merasa seperti hidup hanya berputar di tempat? Bangun, kerja, pulang, tidur—lalu ulangi lagi. Kadang kita lupa, bahwa hidup ini seharusnya lebih dari sekadar bertahan. 

Kita semua butuh rutinitas, tapi jangan sampai itu membungkam jiwa petualang dalam diri kita. 

Pertanyaannya: kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu "di luar kebiasaan" yang membuatmu merasa hidup? 

Atau, "apa 'petualangan kecil' yang ingin sekali kamu coba, tapi belum kesampaian?"


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 858 - MOCHTAR LUBIS

KATA BIJAK # 858 - MOCHTAR LUBIS

"Kebenaran seringkali pahit, tetapi lebih baik daripada kebohongan yang manis."

[ Mochtar Lubis ]

-------------------------

KOMENTAR :

Mochtar Lubis, sebagai seorang jurnalis dan sastrawan, sangat menghargai kebenaran. Ia memahami bahwa kebenaran kadang menyakitkan, tetapi lebih baik dihadapi daripada hidup dalam kepalsuan yang nyaman. Kebohongan, seindah apa pun, pada akhirnya akan merugikan.

Di dunia yang dipenuhi informasi palsu (hoax) dan manipulasi, penting bagi kita untuk selalu mencari kebenaran. Jangan mudah terbuai oleh narasi yang menyenangkan tapi menyesatkan. Kebenaran mungkin berat, tapi itulah yang membangun karakter kuat.

Hidup jujur dan berani menyampaikan kebenaran adalah ciri orang yang bermartabat. Seperti kata Lubis, lebih baik pahitnya kebenaran daripada manisnya kebohongan.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/Kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 851 - HELVY TIANA ROSA

KATA BIJAK # 851 - HELVY TIANA ROSA

"Kebodohan terbesar adalah membiarkan ketidakadilan terus berjalan."

[ Helvy Tiana Rosa ]

-------------------------

Komentar :

Kutipan Helvy Tiana Rosa ini mengingatkan kita bahwa membiarkan ketidakadilan itu terus berlangsung tanpa melakukan apapun bisa menjadi salah satu bentuk kebodohan terbesar.
Ketika kita melihat ketidakadilan di sekitar kita, sering kali kita merasa kecil atau tidak berdaya untuk mengubahnya.
Apakah kamu pernah merasa tergerak untuk melawan ketidakadilan, meskipun itu terasa sulit atau bahkan berisiko?
Apa yang menurutmu bisa dilakukan, baik secara individu atau bersama-sama, untuk mengatasi ketidakadilan yang ada di sekitar kita?
Atau, ada yang merasa bahwa dalam beberapa situasi, lebih baik "diam" atau "menghindar" karena takut terjebak dalam konflik?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 847 - KARLINA SUPELLI

KATA BIJAK # 847 - KARLINA SUPELLI

"Baca buku itu tidak bisa diganti dengan tiktok dan nonton film. Karena kerja otak hanya bisa dilatih menjadi tajam kalau otak itu berdialog (yaitu dengan baca buku)."

[ Karlina Supelli ]

-------------------------

Komentar :

Kemampuan berpikir tajam tidak lahir dari sekadar menerima gambar bergerak atau potongan video pendek. Ia tumbuh melalui proses dialog batin, ketika pikiran bertemu gagasan, menimbang, menyanggah, lalu menyusun ulang pemahaman. Membaca buku menghadirkan ruang itu—sebuah percakapan sunyi namun mendalam antara penulis dan pembaca yang melatih logika, imajinasi, dan daya kritis secara bersamaan.
Sementara tontonan dan media sosial menyajikan informasi secara cepat dan instan, buku memaksa kita untuk berhenti, merenung, dan menelusuri makna. Ia mengharuskan otak bekerja lebih keras, bukan hanya menyerap, tapi juga membangun pemahaman. Dalam aktivitas membaca, otak diajak berdialog, bukan sekadar menerima.
Tanpa kebiasaan membaca, otak kehilangan tantangan untuk berpikir mendalam. Ia akan terbiasa dengan reaksi cepat, tetapi miskin refleksi. Maka, untuk mempertajam daya pikir, tidak cukup hanya dengan menjadi penonton—kita perlu menjadi pelaku dalam proses berpikir, dan membaca buku adalah salah satu bentuk latihan paling dasar dan paling penting dalam hal itu.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921

KATA BIJAK # 827 - MOHAMMAD HATTA

KATA BIJAK # 827 - MOHAMMAD HATTA

"Jatuh bangunnya negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar untaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi."

[ Mohammad Hatta ]

KATA BIJAK # 826 - K. H. ABDURRAHMAN WAHID

KATA BIJAK # 826 - K. H. ABDURRAHMAN WAHID

"Pendidikan adalah perjuangan untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan."

[ K. H. Abdurrahman Wahid ]

KATA BIJAK # 823 - TAN MALAKA

KATA BIJAK # 823 - TAN MALAKA

"Jika sistem itu tak bisa diperiksa kebenarannya atau tak tak bisa dikritik, maka akan mati juga ilmu pasti itu."

[ Tan Malaka ]

KATA BIJAK # 748 -- K.H. ABDURRAHMAN WAHID / GUS DUR

K. H. Abdurrahman Wahid / Gus Dur

 "Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin besar rasa toleransinya."

-- K. H. Abdurrahman Wahid / Gus Dur [ Tokoh Agama, Politisi, Presiden Indonesia ke-4 (1999 - 2001), Ketua Majelis Ulama Indonesia (1987 - 1992), Ketua Dewan Tanfidz PBNU (1984 - 2000) ] --

KATA BIJAK # 744 -- ANDRIE WONGSO

Andrie Wongso

"Dalam kehidupan ini, kemungkinan dan kesempatan sukses selalu terbuka untuk kita. Maka, jangan remehkan diri sendiri. Temukan potensi diri, cari cara dan berjuang 1"

-- Andrie Wongso [ Motivator ] --

KATA BIJAK # 742 -- JOKO WIDODO

Joko Widodo

 "Kita harus melestarikan nilai-nilai perjuangan sebagai modal dan kekuatan untuk membangun bangsa yang adil, makmur dan sejahtera."

-- Joko Widodo [ Presiden Republik Indonesia ke-7 ] --