"Agama tidak diturunkan untuk membius rakyat, tetapi untuk membangunkan mereka dari ketertindasan dan kebodohan."
Khomeini [ Ulama dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, 1902 - 1989 ] --
-----------------------
Komentar :
Kutipan Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini
bahwa “agama tidak diturunkan untuk membius rakyat” secara langsung merupakan
bantahan dan jawaban dari kritik klasik Karl Marx yang menyebut agama sebagai
“opium of the people” (candu bagi rakyat). Bagi Marx, agama kerap berfungsi
sebagai pelarian semu: menenangkan penderitaan, tetapi sekaligus membuat
manusia mau menerima ketidakadilan sosial sebagai sesuatu yang wajar dan tak
terelakkan. Dalam konteks ini, agama dianggap mengalihkan perhatian rakyat dari
akar penindasan yang bersifat ekonomi dan struktural.
Menurut Khomeini, agama hanya menjadi
“candu” ketika diperalat oleh kekuasaan untuk membungkam kesadaran kritis
rakyat. Agama yang direduksi menjadi ritual kosong, yang mengajarkan kepasrahan
tanpa keadilan, memang berfungsi membius—seperti yang dikritik Karl Marx.
Tetapi itu adalah agama yang diselewengkan, bukan hakikat agama itu sendiri.
Dalam pandangan Khomeini, agama sejati berfungsi sebagai kekuatan pembebasan
yang membangunkan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan penindasan. Khomeini
menekankan potensi agama sebagai sumber kesadaran revolusioner yang membela
kaum tertindas.
Dengan demikian, perbedaan keduanya
terletak pada kesimpulan, bukan sepenuhnya pada diagnosis. Marx dan Khomeini
sama-sama mengkritik agama yang membius dan melanggengkan ketidakadilan. Dalam
pandangan Khomeini, agama sejati justru berlawanan dengan candu. Agama
berfungsi sebagai kekuatan pembebasan yang membangunkan manusia dari kebodohan,
ketakutan, dan penindasan. Jika Marx menyoroti bagaimana agama bisa menjadi
bius dan alat ideologis bagi kelas penindas, Khomeini menekankan potensi agama
sebagai sumber kesadaran revolusioner yang membela kaum tertindas dan menuntut
keadilan
*****
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/14Su9aL1fYs/


No comments:
Post a Comment