Showing posts with label AHLI BAHASA. Show all posts
Showing posts with label AHLI BAHASA. Show all posts

KATA BIJAK # 842 - NOAM CHOMSKY

"Pikiran yang merdeka adalah benteng terakhir dari kewarasan manusia."

-- Noam Chomsky [ Ahli Bahasa dan Aktivis Politik dari Amerika Serikat, 1928 - sekarang ] --

-------------------------

Komentar :

Kutipan Noam Chomsky ini dalam bukunya berjudul "Who Rules The World?" mengingatkan kita akan pentingnya mempertahankan kebebasan berpikir dalam dunia yang penuh dengan informasi yang terkontrol dan narasi-narasi yang didorong oleh kekuatan tertentu. 

Noam Chomsky berpendapat bahwa "pikiran yang merdeka" bukan hanya sebuah kebebasan intelektual, tetapi juga merupakan pelindung terakhir bagi kewarasan manusia—kemampuan untuk mempertanyakan, menganalisis, dan membuat keputusan secara mandiri tanpa terpengaruh oleh manipulasi luar. 

Menurut kamu, apa yang dimaksud dengan "pikiran yang merdeka? Apakah itu berarti bisa berpikir tanpa batas, ataukah lebih kepada kemampuan untuk mempertanyakan asumsi dan fakta yang ada, bahkan jika itu tidak populer atau bertentangan dengan arus utama? 

Di era sekarang, kita sering terpapar informasi dari berbagai sumber—media sosial, berita, iklan—yang bisa mempengaruhi cara kita berpikir dan melihat dunia. 

Sejauh mana kamu merasa "pikiran merdeka" itu penting? 

Apakah kita benar-benar memiliki kebebasan berpikir, ataukah pemikiran kita sudah banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal? 

Apakah kamu merasa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga kebebasan berpikir atau ada hal lain yang lebih penting dalam mempertahankan kewarasan di dunia yang semakin terhubung dan terkontrol?


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/literasikata.id

KATA BIJAK # 666 -- NOAM CHOMSKY

KATA BIJAK # 666 -- NOAM CHOMSKY

"Berpikir kritis adalah alat untuk melawan manipulasi dan propaganda." 

-- Noam Chomsky [ Ahli Bahasa dan Aktivis Politik dari Amerika Serikat, 1928 - sekarang ] --

-------------------------

KOMENTAR :

Berpikir kritis memungkinkan seseorang untuk tidak langsung menerima informasi begitu saja, melainkan memeriksanya: siapa yang menyampaikan, apa tujuannya, dan apakah ada bukti yang mendukungnya. Dalam dunia yang dipenuhi oleh opini, narasi sepihak, dan berita yang dibingkai untuk membentuk persepsi tertentu, kemampuan ini menjadi perisai. Tanpa berpikir kritis, seseorang mudah dimanfaatkan—karena apa yang tampak benar belum tentu benar, dan yang terlihat salah belum tentu salah.

Manipulasi dan propaganda bekerja dengan memanfaatkan emosi, menyederhanakan realitas, dan mengulang pesan agar diterima sebagai kebenaran. Mereka tidak ingin orang berpikir terlalu dalam; cukup percaya dan patuh. Di sinilah berpikir kritis menjadi ancaman bagi mereka—karena orang yang mampu menganalisis akan bertanya, menggugat, dan akhirnya bebas dari kendali informasi palsu.

Filosofinya berpijak pada kebebasan intelektual. Berpikir kritis bukan sekadar teknik intelektual, tetapi tindakan pembebasan. Ia membentuk manusia yang tidak sekadar ikut arus, melainkan mampu menentukan sikap berdasarkan pemahaman yang sadar. Dalam masyarakat yang sehat, berpikir kritis adalah fondasi bagi demokrasi, dialog, dan kebenaran yang terus dicari—bukan diterima begitu saja.


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka


Diambil dari :

https://web.facebook.com/kasih.tulus.921