"Jika kau mampu merasakan derita, berarti kau hidup. Jika kau bisa merasakan derita orang lain, berarti kau manusia."
-- DR. Ali Syari'ati [ Sosiolog dari Iran, 1933 - 1977 ] --
-------------------------
Komentar :
Aku pernah duduk diam di kamar, merasakan sedih tanpa tahu pasti dari mana asalnya. Bukan karena kehilangan, bukan karena takut. Hanya semacam rasa pilu yang
melayang-layang di dada. Dan saat itu aku sadar—aku masih hidup. Sebab hanya orang hidup yang bisa merasa nyeri tanpa luka, lapar tanpa kekurangan, sunyi tanpa sepi. Hidup memang tidak selalu keras, tapi ia selalu nyata di tempat yang tak bisa kita lihat.
Tapi menjadi manusia membutuhkan lebih dari sekadar merasa untuk diri sendiri. Aku tahu aku benar-benar menjadi manusia ketika aku melihat orang lain jatuh dan sesuatu di dalam diriku ikut remuk. Saat mendengar suara orang tertahan di ujung telepon, dan aku kehilangan kata-kata tapi ingin tetap tinggal di sana. Rasa itu—yang tak menuntut balasan—itulah yang membuat kita saling terhubung, meski tak saling mengenal.
Banyak orang hidup, tapi tidak semua menjadi manusia sepenuhnya. Mereka berjalan, bekerja, tertawa, tapi hatinya tertutup rapat dari rasa sakit yang bukan miliknya. Padahal dunia ini tidak kekurangan penderitaan—yang kurang hanyalah mereka yang cukup berani untuk merasakannya bersama orang lain. Karena hanya dengan itu, kita bisa menumbuhkan harapan di tempat yang paling gelap.
Sumber :
https://web.facebook.com/kasih.tulus.921
-------------------------
Jika seseorang masih
bisa merasakan derita, itu pertanda ia masih hidup. Rasa sakit, luka, dan
kegelisahan adalah bukti bahwa nurani belum mati, bahwa tubuh dan jiwa masih
bekerja merespons dunia. Derita bukan hanya beban, melainkan penanda
keberadaan, bahwa hidup tidak berjalan hampa dan mekanis.
Namun hidup saja
tidak cukup. Ketika seseorang mampu merasakan derita orang lain, di situlah
kemanusiaan menemukan bentuknya. Empati membuat batas antara aku dan kamu
menjadi rapuh. Penderitaan tak lagi dianggap urusan pribadi, melainkan
panggilan bersama untuk saling memahami dan menjaga.
Tanpa kemampuan
merasakan luka sesama, manusia hanya bergerak sebagai individu yang bernapas.
Kemanusiaan lahir saat rasa sakit orang lain tidak lagi terasa jauh, melainkan
mengetuk hati dan menuntut tanggung jawab.
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1Cjz8iqgZS/
**********
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Max Hendrian Sahuleka
No comments:
Post a Comment